Dongeng : Penjelajahan Dari Masa Lampau Sampai Era “Juggernault”i

Kisah seribu satu malam

Kisah meninggalnya alam gurun

Dalam kesunyian hembusan anginnya.

Dongeng untuk sementara ini telah terlupakan. Mungkin yang masih peduli akan keberadaannya hanyalah sedikit dari sebagian orang yang masih berusaha melestarikannya dan beberapaiianak kecil yang tetap setia padanya. Menghidupi sesuatu yang dianggap bertentangan dengan kemajuan zaman emang bukan hal yang mudah. Dongeng sebagai salah satu tradisi dan adat istiadat bangsa ini sudah jauh kalah dengan produk-produk inovasi. Padahal keberadaan dongeng harus terus pertahankan sebab ia adalah warisan dan hasil endapan kebudayaan suatu bangsa di masa lalu. Itulah akar dan sumber segala pembaharuan dan perkembangan kepribadian suatu bangsa.iiiApabila suatu bangsa telah melepaskan apa yang dihasilkannya di masa lampau maka ia harus memulai kembali dari awal sejarah eksistensinya. Melepaskan diri dari tradisi dan hanya merujuk pada inovasi, pembaharuan-pembaharuan hanya akan membuat tercerabutnya akar-akar kebudayaan, dasar pijakan dan jati diri akan hilang. Itulah mengapa dikatakan suatu bangsa harus menulis sejarahnya dari awal seperti seorang bayi yang baru saja lhir setelah hidup di kehidupan sebelumnya.

Selusuri sungai makna dalam dongeng

Dongeng-dongeng dan mitos-mitos sebenarnya berbicara mengenai masa kini dengan membawa kita ke masa lampau. Membawa kita lari sejenak untuk berkhayal. Mendengarkan sebuah dongeng seperti diajak ‘berdarmawisata’ ke tempat nun jauh di sana, menjelajahi dunia-dunia, mengembara dari satu tempat ke tempat lain sesuai dengan nada dan alur ceritanya. Serasa terbang berkhayal dan sejenak melepaskan kepenatan dari derita kehidupan. Tujuannya tidak saja untuk mengenang dan menghormati leluhur kita, tetapi juga untuk merenungi keberadaan kita saat ini. Dengan demikian, mitos atau dongeng-dongeng sebenarnya adalah sebuah pencarian dan sekaligus pengungkapan makna dari kenyataan hidup. Yaitu kenyataan hidup kita yang nyata dan pada masa sekarang. Tetapi tidak hanya berhenti di situ saja,mitos mengajak kita untuk berjalan-jalan ke masa lampau atau dunia khayal. Mengapa? Ya, karena manusia tidak puas hanya dengan keadaan atau kondisi yang nampak. Manusia berusaha untuk memahami hakikat keadaan lebih dari itu.

Mitos adalah pencarian manusia untuk memahami segi terdalam benda-benda dan keadaan. Mitos muncul karena orang mau mengerti rahasia alam, rahasia kehidupan. Mitos lahir dari penggabungan ide-ide yang logis.ivBagi kita sekarang, mungkin tindakan seperti persembahan korban agar hujan segera turun menghapus musim kemarau yang panjang “ konyol dan bodoh, tapi dalam prespektif lain tindakn itu sepenuhnya rasional, yaitu untuk mengubah alam.vJika suara petir disamakan dengan suara orang yang marah dan air hujan dianggap sebagi air mata kesedihan, maka akan mudah memahami kenapa dalam setiap dongeng dan mitos-mitos kekuatan-kekuatan alam selalu dimasukkan ke dalam cerita-cerita khayalan, dimana peristiwa-peristiwa alam dipandang sama dengan perilaku binatang maupun manusia. Trial and error mewarnai proses-proses perjalanan panjang menuju garis “perkembangan” yang semakin jelas. Pada masyarakat primitif, mitos dan dongeng membantu mereka menerangkan fakta-fakta alam dan hidup dengan bantuan analogi dan komparasi. Singkatnya, kecenderungan alamiah untuk menyelubungi setiap ide dengan pakaian konkritlah yang telah menunjukkan pola-pola rasionalitas dalam masyarakat primitif. Cerita-cerita seperti gempa bumi akibat Dewa Naga penyangganya sedang menggeliat ataupun hilangnya bulan karena ditelan raksasa adalah memang murni karya imanjinasi, tapi personifikasi-personifikasi ini dengan jelas merupakan latihan-latihan pikiran rasional yang berusaha menjelaskan kenapa sesuatu bisa terjadi.

Kalau kita mendengarkan dongeng-dongeng, mitos, atau cerita-cerita aneh, maka emosi kita terlibat. Kita asyik bercerita dan bahkan saling berebut untuk menceritakannya. Kita dapat menangkap maknanya bila kita secara emosional terlibat. Hal ini adalah karena kalau kita berbicara mitos, yang sebenarnya dibicarakan adalah diri kita dengan dunia luar, yaitu kejiwaan yang diwarnai dengan ntradisi, agama, moral dankejiwaan sosial, tempat tinggal dsb. Karena begitu pekatnya makna yang hendak diberikan oleh sebuah mitos atau dongeng, maka kita menggunakan lambang, simbol dan perumpamaan. Lambang, simbol, dan peruimpamaan hanyalah berfungsi sebagai tanda. Tanda ini merupakan representasi dari yang lain, ia tidak menunjuk dirinya sendiri. Dalam pemikiran Derrida, tanda hanyalah sesuatu sebagai pengganti dari ketidakhadiran objek. Tanda ini akan mewakili selama objek belum hadir. Derrida mengatakan bahwa kehadiran tidak merupakan suatu instansi independen yang mendahului tuturan dan tulisan kita, dalam tanda yang dipakai.viLambang, simbol, perumpamaan dalam dongeng hanyalah sebagai pengganti dari kehadiran makna yang ingin dihadirkan. Salah satunya adalah bahwa “mitos dan dongeng-dongeng sangat penting karena nitos dan dongeng-dongeng tersebut telah membentangkan jalan yang harus ditempuh dalam menyelidiki asal-usul agama.viiOrang-orang primitif yang masih hidup dalam zaman modern ini , seperti halnya masyarakat purba dulu, memang memiliki pengetahuan yang digunakan berpikir dalam mentalitas mental yang sama dengan kita sekarang. Lewat tanda—berupa simbol, lambang, perumpamaan—dalam dongeng dan mitos maka kehadiran fakta historis dan unsur-unsurnya dapat direpresentasikan. Jalinan makna yang termaktub dalam sebuah dongeng dapatlah diketahui dari tanda yang mengganti kehadirannya. Aspek-aspek kebudayaan masih tetap bisa diwariskan lewat kelisanan cerita sebuah dongeng.

Namun hendaknya sebuah dongeng tidak hanya dianggap sebagai bagian dari sebuah karya sastra, meskipun dalamkhazanah kesusatraan bangsa indonesia ia tergolong dalam prosa indonesia lama. Ia dimasukkan sebagai sebuah karya sastra karena dongeng sebagai hasil kreativitas manusia merupakan juga ungkapan estetis dari tinggi rendahnya perasaan seni. Namun sebuah dongeng juga tidak hanya memuat kenyataan masa lampau melainkan juga unsur-unsur yang membentuk mengapa sampai terjadi kenyataan tersebut. Suatu unsur hadir bukan unutk mewakili dunia unsur, tapi untuk membentuk karya.viiiIbarat garam dalam sebuah masakan, ia tidak hadir dalam masakan untuk mewakili daan menonjolkan unsur kehadiran garam dalam masakan melainkan datang dan hadir sebagai bagian yang membentuk masakan. Kenyataannya ia memang hadir sebagai garam tetapi dalam rangka menyusun suatu kesatuan dengan unsur-unsur masakan lainnya. Dongeng merupakan kreativitas imajinasi yang dibungkus unsur supranatural, imajinasi kreatif hanyalah unsur yang bersama-sama hadir dengan unsur lainnya untuk membentuk satu kesatuan cerita dongeng yang utuh. Itulah mengapa dongeng sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai dokumen sosio budaya. Hal ini untuk mengantisipasi agar unsur-unsur yang turut membentuk dongeng tidak hilang dalam sapuan kemajuan peradaban sebab ia dianggap sebagai bagian partikular bukannya bagian dari kesatuan. Jika hubungan sosial dan kekuasaan dikaji, kekuatan sejarah yang membentuk teks tersebut pun dipahami.ix

Antara dongeng dan Mitos

Dalam pembabakan kesusatraan, dongeng terbagi dalam legenda, cerita yang sama sekali tak masuk akal; sage, cerita yang terkait unsur sejarah;mitos, cerita yang mungkin terjadi;fabel, cerita yang berkisah tentang dunia binatang;dan hikayat, cerita yang berkisah tentang kepahlawanan. Jadi dalam hal ini mitos adalah bagian dari dongeng. Sebuah dongeng bisa berbentuk mitos ataupun yang lainnya.

Mitos sendiri berasal dari bahasa Yunani muthos, yang secara harfiah diartikan sebagai cerita atau sesuatu yang dikatakan seseorang; dalam pengertian yang lebih luas bisa berarti pernyataan, sebuah cerita atau alur drama. Mitos dalam bahasa inggris menunjuk pada mythology yang berarti studi tentang isi mitos maupun bagian-bagiannya. Sebuah buku yang berjudul Sex, Culture, and Myth hasil tulisan B. Malinowski, membedakan pengertian antara dongeng, legenda dan mitos. Menurut dia, legenda lebih sebagai cerita yang diyakini seolah-olah merupakan kenyataan sejarah, meskipun sang pencerita menggunakannya untuk mendukung kepercayaan-kepercayaan dari komunitasnya.xBerkebalikan dengannya, dongeng mengisahkan peristiwa-peristiwa ajaib tanpa dikaitkan dengan suatu ritus tertentu. Dongeng dianggap sebagai sesuatu yang tak pernah benar-benar terjadi. Ia ada karena diadakan dalam pengertian lebih lanjut, hanyalah hasil khayalan dan imajinasi pelarian dari fakta. Atu bisa juga diartikan sebagai, seperti kata Freud, hanyalah suatu puncak dari ketidaksadaran keinginan manusia yang tak pernah terwujudkan. Ia hanya terkait dengan hiburan. Sedangkan mitos merupakan “pernyataan atas suatu kebenaran lebih tinggi dan lebih penting tentang realitas asali, yang masih dimengerti sebagai pola dan fondasi dari kehidupan primitif”.xi

DalamKamus Filsafat karya Lorens Bagus, mythos adalah mite, mitos, fabel, hikayat, legenda, percakapan, ucapan, dan pembicaraan dari zaman purbakala, dalam arti aslinya.xiiE.B. Taylor menjelaskan mitos sebagai produk kekacauan atau kebingungan manusia yang mencampuradukkan begitu saja pengalaman mimpi dan bangunnya. Kebanyakan dari para filsuf berbeda pendapat tentang mitos. Sebagian terbesar dari mereka mempunyai definisi sendiri-sendiri untuk mitos. Tetapi dua yang paling bertolak belakang yaitu Vico yang menganggap mitos sebagai instrumen yang memungkinkan sejarah manusia, sebagaimana hadir dalam adat-istiadat kelompok-kelompok kemasyarakatannya, dipertahankan; dan Schelling yang menyatakan bahwa sejarah suatu bangsa ditentukan oleh mitologinya. Hal ini terkait erat dengan pendapatnya dengan peran mitos dalam mempertahankan potensi-potensi kreatif murni dari para anggota kelompok kemasyarakatan yang memberinya bentuk. Usaha ini kemudian diteruskan oleh Ernst Cassirer, ia menghidupkan kembali pandangan Schelling tentang autensitas mitos sambil memusatkan perhatian pada makna kritis bahasa. Pada tahap berpikir mitis, kata dan realitas diidentikkan, sehingga daya naratif dan daya alam identik.xiiiSedangkan Levi Strauss membangkitkan lagi pernyataan Giambattista Vico bahwa mitos menggambarkan adat istiadat kelompok-kelompok sosial. Ia melakukan pendekatandnean prespektif antropologi, instrumen yang lebih maju daripada yang digunakan Vico. Dengan analisisnya itu, ia menemukan peranan mitos dalam mempertahankan dan mempersatukan realitas sosial melawan pertentangan-pertentangan sosial yang dapat diperdamaikan dalam cerita mitis. Masyarakat masa lampau memiliki ‘kebijakan puitis’ (sapienza poetica), dimana mereka menyatakan cara pandangnya terhadap dunia lewat berbagai bentuk metafisik, metafora, simbol dan mitos-mitos.

Yang sangat berpengaruh atas kehidupan dan kebudayaan bangsa adalah mitos yang dianggap pandangan hidup atau weltanschauung yang intuitif, imajiner, yang lazim dipersonifikasikan.xivMitos dapat juga dikatakan cerita yang asal-usulnya sudah dilupakan. Penafsiran modern yang simpatik tentang mitos-mitos tidak menganggapnya benar atau salah, melainkan sebagai sebuah pemahaman tentang realitas. Ia diakui tidak banyak membantu dalam menjelaskan kenyataan tetapi membantu untuk menguasai kenyataan secara rohani dan untuk membangun hubungan yang hidup dengan kenyataan. Cara-cara yang ditempuhnya tidaklah rasional namun dengan tujuan dan maksud-maksud rasional.xvPoetics, karaya Aristoteles menggunakan istilah mitos untuk mengacu pada alur, struktur naratif, cerita yangdikontraskandnegna wacana dialektis, eksposisi. Sekarang ini ia menjadi istilah yang penting dalam kritik modern, dan biasa dilawankan dengan filsafat dan ilmu pengetahuan. Mitos memiliki “wilayah makna” yang cukup luas.xvi

Puing-puing dongeng dalam globalisasi

Dari sejumlah lama kita, mantra pantun dan dongeng adalah yang paling sering dihidupi oleh tradisi lisan. Dalam jaman globalisasi ini prosa sudah tidak sperti puisi yang masih bergelut dengan kelisanan. Seperti diungkapkan Sapardi Djoko Damono “berbeda dengan prosa yang tampaknya semakin memperhitungkan bermacam-macam aspek keberaksaraan, puisi hanya sekali-kali saja berpegang teguh paa prinsip-prinsip tradisi cetak, seperti misalnya yang terjadi pada suatu aspek perkembangan puisi konkret”.xviiSejak dulu dongeng disampaikan dari mulut ke mulut, dari ibu ke anaknya menjelang tidur, dari tukang cerita yang menjual ceritanya untuk mendapatkan sesuatu untuk bisa memperpanjang nafas hidupnya. Kenikmatan sebuah dongeng akan lebih dirasakan manakala dilisankan daripada membacanya dalam cetakan-cetakan di buku atau majalah. Kelemahan kelisanan adalah ia tidak dapat didokumentasikan layaknya buku dan selalu memerlukan bantuan orang lain. Proses mendengar dan menceritakan selalu terjadi antara du pihak, inilah yang merepotkan. Di satu sisi bagi yang punya waktu luang tak ada masalah namun bagi yang diburu waktu, ia memerlukan suatu wahana yang lebih efektif. Semakin memperkecil prosentase salilng membantu dan ketegantungan adalah salah satu ciri individualistik.

Dekade terakhir ini kita telah memasuki millenium ketiga. Pergerakan waktu di jagat raya tidaklah terperhatikan seksama, manusia tidak melihat dan juga tidak merasakannya. Manusia hanya mengetahuinya lewat jejak-jejak yang ditinggalkan perputaran waktu. Peristiwa-peristiwa, perubahan objeklah, tanda-tanda yang dapat dilihat manusia. Perubahan millenium telah mendorong modernisasi dan pembangunan, keduanya memang berkembang secara naterial dan struktural. Akan tetapi modernisasi dan pembangunan itu sebaliknya telah menyebabkan kita kehilangan realitas-realitas masa lalu dan kearifan-kearifan masa lampau yang ada di baliknya, yang justru lebih berharga bagi pembangunan diri kita sebagai manusia, sperti: rasa kedalaman, rasa kebersamaan, rasa keindahan, semangat spiritualitas, semangat moralitas dan semangat komunitas.xviiiApa yang dihasilkan kebudayaan manusia di masa lampau telah berganti dengan budaya baru yang lebih menonjolkan aspek materialitas. Dongeng sebagai produk rasional masyarakat masa lampau untuk menerangkan gejala-gejala alam yang terjadi dirasakan tidaklah sesuai lagi dengan tingkat rasionalitas masyarakat sekarang. Dongeng sebagai karya sastra, imajinasi ataupunpengajaran nilai-nilai keutamaan tampaknya telah dianggap hilang fungsinya. Manusia masuk kedalam dunia halusinasi dan ilusi yang lain seperti cyberspace, virtual reality, konsumerisme dan lain-lain. Padahal “ ketika diri kita tak lebih dari sebuah topeng, sebuah make-up, sebuah halusinasi, sebuah ilusi maka lenyaplah apa yang selama ini dianggap identitas diri”.xix“Menjadi suatu topeng kolektif yang menyembunyikan kekosonganbatin”, kata Bakker.xxDengan polarisasi yag terlalu menekankan pada salah satu bagian unsur—dalam hal ini materi—kepribadian akan tetap tumbuh, nmaun secara ekstrim pula, secara liar (tidak diharmonikan dalam bentuk), pada suatu waktu bangsa itu akan menjadi retak. Sejarah kelompok tersebut akan putus dan kebudayaannya hancur pula.

Namun dongeng senantiasa tidak pernah hilang. Dongeng masih hidup dalam perubahan-perubahan. Dalam term “survival of the fittest” Darwin, dongeng masih bisa bertahan dalam evolusi kebudayaan. Mengapa bisa sampai demikian? Ataukah mengapa sebuah peristiwa, penggalan-penggalan sejarah, dan juga khayalan sebagai sebuah hasil imajinasi pikiran yang melarikan diri dari kenyataan hidup yang tak sanggup mengejar impian-impian, harus didongengkan? Karena sebuah peristiwa adalah milik kesementaraan. “Kekinian” yang dihadapi manusia hanya berlangsung sesaat. Pengenangan atau perencanaan sebuah peristiwa bukan lagi “kini”. Ia sudah berubah menjadimasa lampau yang hanya dapat dikenang atau menjadi masa depan yang harus direncanakan. Yang langgeng, yang akan terus berlangsung, adalah ingatan, kenangan kemudian tanggapan, interpretasi, proses pemaknaan, terhadap peristiwa. Namun karena volume otak manusia terbatas sehingga ingatan manusia bukan saja pendek melainkan juga rapuh. Maka diperlukan dongeng. Dan itu hanya mungkin jika ada tukang cerita yang menciptakan kembali dan mengisahkannya—mengisahkan peristiwa maupun rangkaiannya sebagai bagian dari kebudayaan yang telah dibangun umat manusia. Sebuah dongeng adalah peristiwa yang tidak lagi ditinggal hanya sebatas sebagai fakta, tetapi dihayati dan kemudian diciptakan kembali.

Peranan tukang cerita yang telah melestarikan dongeng kini telah diperkecil dengan ditemukannya alat cetak. Dongeng ditulis dan didokumentasikan dalam buku-buku, majalah singkatnya dongeng dihidupi oleh tradisi cetak. Dengan keberaksaraan, dongeng mengalami perubahan besar. Ia menjadi dari pengetahuan dan teknologi yang memberikan pencerahan bagi kemajuan. Pencerahan selalu ditujukan untuk membebaskan manusia dari rasa takut. Kemampuan rasional memberikan kekuasaan pada manusia untuk membangun alam. Namun kapitalisme telah memberikan ‘pencerahan palsu’, masyarakat dibebaskan dari penjara mitos, legenda, tradisi, kanoan yang telah mengungkung manusia di masa lalu, dan dimasukkan ke dalam penjara sebenarnya yaitu ‘komoditi’ dengan segala karakteristik instrumental-nya.xxiKapitalisme menguasai komoditi dan mengkomodifikasi seluruh aspek kehidupan—termasuk kebudayaan dan seni. Individu adalah dinilai rendah dalam secara keseluruhan dalam hubungannya dengah kekuatan-kekuatan ekonomi, yang pada waktu yang sama menekankan pengawasan terhadap alam hingga sekarang pada tingkatyang tak diharapkan.xxiiSegala bentuk hasil rroduksi dan reproduksi dijadikan komoditi, untuk dipasarkan dengan tujuan untuk mencari keuntungan. Komoditi diproduksi untuk pemakai, akan tetapi pemakai, yang dimaksud adalah pemakai yang telah dirasionalisasikan dalam sistem ekonomi. Produksi bukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai, namun kebutuhan diciptakan oleh produksi.

Kapitalisme tidaklah dapat dipisahkan dari globalisai. Keduanya seakan seiring sejalan. Kemajuan sains dan teknologi yang memunculkan globalisasi bagaikan pedang bermata dua. Bersamaan dengan kemajuan ekonomi serta meningkatnya kemakmuran, kita melihat tanda-tanda lenyapnya kedalaman (deepness) didalam kehidupan masyarakat kontemporer.xxiiiBanjir informasi yang terperinci dan hiburan candy-floss secara sekaligus memerintah dan melemahkan kemanusiaan.xxivNamun semua itu masihkah donegeng merupakan merupakn usaha rasional manusia menjelaskan gejala dan gejolak perubahan zaman?***

i “Juggernaut” adalah sebuah istilah yang digunakan seorang sosiolog filsuf kenamaan Inggris abad ini yaitu Anthony Giddens untuk menggambarkan bagaimana kecepatan dan kekuatan globalisasi tidaklah tertahankan.

ii Dikatakan beberapa karena memang sekarang anak-anak juga tidak luput terkena imbas era globalisasi, yaitu dengan makinmudahnya cerita-cerita hasil rekayasa teknologi msuk ke dalam otak mereka lewat televisi maupun media informasi lain.

iii Bakker, Anton, Filsafat Sejarah , Refleksi Sistematik, hal.47.

iv Daniel L. Pals, Dekonstruksi Kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama, 2001, Ircisod, hal:32

v Ibid, hal:33

vi Bertens, K, Sejarah Filsafat Barat Kontemporer Prancis, 2001, Gramedia, hal:330.

vii Opcit, Daniel L Pals, hal:34.

viii Umar Junus. “Sastra lama: antara sudah dan belum selesai” dalam Kalam,ed.1o,1997, hal:13.

ix Sardar&Von Loon, Cultural Studies for Beginner, 2001, Mizan, hal:12

x Dhavamony, Mariasusai, fenomenologi Agama, 1995, Kanisius, hal:147.

xi Ibid.

xii Bagus,Kamus Filsafat, 1996, Gramedia, hal:658.

xiii Ibid, hal:661.

xiv Ibid, hal: 658.

xv Heru Nugroho dalam kata pengantar untuk Schroeder, R, 2002, Max Weber: tentang hegemoni dan siistem kepercayaan, Kanisius, Yogyakarta

xvi Wellek&Warren, 1995, Teori Kesusatraan, 1995, Gramedia, Yogyakarta.

xvii Djoko Damono, S, 1999, “Kelisanan dalam Keberaksaraan” dalam kalam ed. 13, hal:5.Amir Pilliang, Yasraf, 1998, Dunia Yang Dilipat, Mizan, Bandung , hal: 29.

xviii Amir Pilliang, Yasraf, 1998, Dunia Yang Dilipat, Mizan, Bandung , hal: 29.

xix Ibid, hal:32

xx Bakker, Anton, Filsafat Sejarah , Refleksi Sistematik, hal.45.

xxi Amir Pilliang, 1999, Hiper-Realiltas Kebudayaan, Yogyakarta: LKIS, hal: 33.

xxii Adorno & Horkhrimer, 2002, Dialektika Kebudayaan, Yogyakarta: Ircisod, hal : 20.

xxiii Opcit, Amir Pilliang, 1998, hal : 30

xxiv Opcit Adorno&Horkeimer, hal: 21

ditulis Oleh: A. “Choonkkoor” Suharyanto

Kebudayaan: http://thalespi.blog.com/2007/11/

Jika Anda menyukai posting ini, silahkan menuliskan komentar Anda atau subscribe ke feed dan mendapatkan kiriman artikel selanjutnya ke feed reader Anda.

Komentar

Belum ada komentar.

Tuliskan komentar

(required)

(required)