Sandhiasma
Artikel ini hasil copas dari jawajawi, judul aslinya Kepengarangan Teks dan saya tambahkan sedikit. Teknik kepengarangan penulis Jawa amat unik dan istimewa kerana kebanyakan pengarang menggunakan sandhiasma yang merupakan satu cara penampilan nama yang dimulai oleh Ranggawarsita. Sandiasma bermaksudnya adalahmenyelipkan nama sipengarang dalam sebuah karya terutamanya di dalam sebuah tembang. Sandhi artinya rahasia dan asma artinya nama. Penyamaran dengan menyelipkan nama di antara kata-kata yang digunakan mungkin bertujuan agarkaryanya tidak diciplak oleh pengarang lain. Namun demikian penulisan pada waktu ini lumrahnya berpusat di kraton-kraton, jadi keegoan seorang pengarang tenggelam di bawah kekuasaan seseorang saja. Contohnya di dalam teks Jayengbaya, sandiasma tersebut diletakkan di setiap permulaan pada setiap baris.
Kidung kadresning kapti
yayah nglomong tanpa masa
ingan silarja jatine,
satata samaptaptinya,
raket rakiting ruksa,
tahan tumaneming siku
karasuk sakeh kasrakat.
Apabila digariskan pada setiap bunyi tersebut, akan berbunyi Kyai Sarataka.
Untuk menentukan bahawa Kyai Sarataka itu adalah Ranggawarsita, maka faktor sejarah dapat digunakan untuk penelitian ini. Hal ini terbukti apabila Ranggawarsita pada dasarnya dikenali sebagai Bagus Burham dan pada tahun 1822 telah dilantik menjadi panewu carik dengan gelaran Kyai Sarataka. Dengan itu dapat dipastikan bahwa Kyai Sarataka itu adalah Bagus Burhan yang akhirnya dikenali juga sebagai Ranggawarsita.
Contoh sandiasma yang lain dapat dilihat dalam Serat Cemporet yang meletakkan sandiasmanya di akhir pedotan (tempat berhenti nafas dalam baris-baris tembang).
Songsong gora, candraning hertati
Luwir winidyan saroseng parasdya
ringa-ringa pangripatane
tan darbe lebdeng kawruh
angruruhi wenganing budi
kang mirong ruhareng tyas
jaga angkara nung
minta luwar ing duhkita
ajwa kongsi kewran puketeng kinteki
kang kata ginupita.
Penampilan sandiasma yang dimulakan oleh Ranggawarsita sebagai perintis tidak hanya terbatas di permulaan kalimah pada setiap baris dan pedotan suara, malahan beliau menulisnya dalam beberapa cara, misalnya:
1. Pada suku pertama setiap baris.
2. Pada akhir pedotan (tempat berhenti nafas dalam baris-baris tembang).
3. Pada permulaan pedotan/hentian.
4. Dalam sebaris dari suatu rangkap tembang. Biasanya terletak dalam akhir cerita.
5. Setiap permulaan rangkap tembang dalam suatu pupuh.
6. Pada setiap permulaan pupuh.
7. Pada akhir pedotan serta baris akhir tembang.
8.Pada setiap permulaan baris-baris tembang dengan sebuah kata.
Pemaparan beberapa sandiasma dalam karya ranggawarsito di atas tidak hanya menyangkut penerapan sandiasma pada suku pertama setiap baris dan pada pedotan suara, namun dapat pula dilihat contoh yang lain seperti yang tertulis pada rangkap akhir dalam Serat Kalatidha.
ageda sabar santosa
mati sajroning ngaurip
kalis ing seh haru-hara
murka angkara sumingkir
tarlen meleng malatsih
sanityaseng tyas mamatuh
badharing sapudhenda
antuk majar sawatawis
borong angga suwarga mesi martanya.
Di sini terlihat kepintaran ranggawarsito menyisipkan namanya pada tempat yang tidak disangka dan ini amat sukar diketahui. Teknik penulisan dengan menggunakan sandiasma yang dimulai olehnya ini hanya diketahui oleh mereka yang sudah mapan dengan kesusasteraan Jawa. Jadi, faktor utama untuk menentukan kepengarangan beliau dalam teks adalah berdasarkan penyelidikan namanya secara sandiasma. Walaupun penggunaan sandiasma ini dianggap suatu yang unik pada abad ke¨19, namun karya-karya yang dihasilkan sebelum beliau juga dapat ditelusuri tentang kepengarangan seseorang pengarang berdasarkan mukadimah sebuah karya.
Penulis teks kajian ini bukanlah terdiri daripada orang yang terkenal. Nama penterjemah dicetak dengan jelas pada bagian muka depan yaitu tidak seperti pada zaman penulisan tokoh agung Ranggawarsita yang menampilkan namanya melalui sandiasma.
Umumnya dalam kesusasteraan Melayu lama nama pengarang tidak begitu ditonjolkan. Hal seperti ini sudah menjadi suatu tradisi bahwa pengarang tidak harus memiliki hasil penulisan mereka kerena karya mereka merupakan hak bersama yang diwarisi, ditulis, didengar dari cerita-cerita yang pernah ada sebelumnya. Dalam Sejarah Melayu misalnya, pengarang merujuk dirinya seperti orang ketiga. Kedudukannya dipisahkan kerana sifat pengarang yang tidak mau menjadikan dirinya objek kajian. Dengan ini dia harus membenamkan kepentingan dirinya dalam kepentingan luas masyarakat umumnya. Dalam arti kata yang lain, hasil yang dicipta itulah yang lebih dipentingkannya.
Pengarang Sejarah Melayu juga tidak dapat lari daripada keadaan dunia penulisan pada waktu itu sehingga dia menganggap dirinya fakir, allazi murakkabun ala jahlihi yang bermakna orang yang sadar akan kelemahan dan keterbatasan pengetahuannya. Kedudukannya dianggap paling rendah dan beliau sadar akan kedudukan dirinya sebagai umat manusia yang kurang dalam segalanya. Justru itu, dalam mukadimmah Sejarah Melayu terdapat puji-pujian kepada Allah dan Rasul dengan harapan untuk mendapatkan kekuatan dalam menulis tamadun bangsanya sebagaimana yang diarahkan oleh rajanya:
Hamba dengar ada Hikayat Melayu dibawa orang dari Goa, barang kita perbaiki kiranya dengan istiadatnya supaya diketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita, dan boleh diingatkan oleh segala mereka itu. Dan adalah beroleh faedah ia daripadanya.
Jika Anda menyukai posting ini, silahkan menuliskan komentar Anda atau subscribe ke feed dan mendapatkan kiriman artikel selanjutnya ke feed reader Anda.
saya kira dari web ini contoh sandiasmanya itu-itu saja, tolong di perbanyak dong,,sekarang juga!!!!!!!