Sistem Penanggalan Jawa 2

Penanggalan Saka

Penanggalan tahun Saka dimulai pada tahun 78 Masehi, tepatnya tanggal 1 bulan Cetra 0 (Nol) Saka. Jatuh pada hari selasa Pahing, 10 Maret 78 M. Ada berbagai pendapat mengenai kemunculan penanggalan ini. Ada yang berpendapat penanggalan Saka dimulai tahun 78 Masehi, ketika kota Ujjayini (Malwa di India sekarang) direbut kaum Saka (Scythia) di bawah pimpinan Raja Kaniska dari tangan kaum Satavahana. Tahun baru terjadi pada saat Minasamkranti (matahari pada rasi Pisces) awal musim semi. Dipodjojo berpendapat penanggalan Saka dimulai saat kelahiran raja Saka yang bernama Çaliwana yaitu 14 Maret 78 M. Sedangkan Damais berpendapat bahwa awal penanggalan Saka bertepatan pada tanggal 3 Maret 78 M, 20/21 Februari 79 M, atau 14 Maret 78 M. Menurut Darmosoetopo awal tarikh Saka bertepatan dengan hari Salasa Pahing wurukung tanggal 10 Maret 78 M.

1. Nama Bulan

Adapun nama-nama bulan penanggalan Saka ialah :

a. Caitra : Maret – April

b. Waiçakna : April – Mei

c. Jyestha : Mei – Juni

d. Asadha : Juni – Juli

e. Çrawana : Juli – Agustus

f. Bhadrawada : Agustus – September

g. Asuji : September – Oktober

h. Karttika : Oktober – November

i. Marggasira : Nopember – Desember

j. Fosya : Desember – Januari

k. Magha : Januari – Februari

l. Phalguna : Februari – Maret

Penanggalan Saka tidak menyebut tanggal dengan angka tetapi dengan istilah dan hanya sampai lima belas, lalu kembali lagi ke tanggal dengan melihat kondisi bulan. Satu bulan Saka mengalami dua kondisi bulan (rembulan) yaitu suklapaksa dan krsnapaksa. Suklapaksa adalah keadaan dimana bulan atau bagian bulan tampak terang (mulai bulan tampak sampai dengan bulan purnama), dan krsnapaksa adalah bagian bulan gelap (setelah bulan purnama sampai dengan bulan tidak tampak). Jadi penanggalan Saka tidak memiliki tanggal 16. Misalnya, tithi pancami suklapaksa adalah tanggal lima, sedangkan tithi pancami kresnapaksa adalah tanggal dua puluh.

Istilah tanggal-tanggal itu adalah :

Pratipada : 1 Saptami : 7 Trayodaçi : 13

Dwitiya : 2 Stami : 8 Caturdaçi : 14

Trtiya : 3 Nawami : 9 Pancadaçi : 15

Caturthi : 4 Daçami :10
Pancami : 5 Ekadaçi :11
Sasti : 6 Dwadaçi :12

2. Nama Hari (Saptamara)

Dalam penanggalan Saka. Terdapat siklus tujuh harian yang dikenal dengan Saptamara. Penyebutannya pada umumnya disingkat. Nama-nama hari yang bersiklus tujuh beserta singkatannya ialah :

1. Aditya (A, Ra) : Ahad 5. Wrhaspati (Wr) : Kamis

2. Soma (So) : Senin 6. Çukra (Çu) : Jumat

3. Anggara (Ang) : Selasa 7. Çanaiscara (Ça) : Sabtu

4. Budha (Bu) : Rabu

Interaksi Jawa dengan India yang berlangsung lama ini menjadikan transformasi keilmuan yang diserap masyarakat jawa dalam hal penanggalan membentuk karakteristik penanggalan Saka yang berbeda atau lebih berkarakteristik lokal, sehingga jadilah penanggalan saka versi Jawa dengan tidak menghilangkan perhitungan wanktu yang lebih dahulu dipakai di Jawa atau dengan kata lain, masyarakat Jawa merangkapi penanggalan Saka dengan perhitungan waktu setempat, perhitungan waktu lima harian (pancawara) dan enam harian (sadwara) Jawa tetap digunakan dalam penanggalan Saka, ditambah dengan keilmuan baru yang mereka dapatkan, seperti adanya Pawukon.

3. Pawukon

Wuku atau pawukon adalah siklus mingguan yang ada didalam penanggalan Saka, berjumlah tiga puluh, dan dimulai pada hari minggu, sehingga dalam satu tahun wuku berjalan 210 hari untuk kembali ke wuku yang pertama. Berbeda dengan sistem penanggalan, wuku ini mirip dengan ilmu horoskop atau astrologi dengan membagi hari kelahiran seseorang berdasarkan tanggal dan tahun kelahiran. Hanya saja pawukon mendasarkan perhitungannya menurut penanggalan Saka Jawa. Wuku dalam bahasa Jawa kuno artinya pekan atau seminggu. 1 wuku artinya 7 hari. Pawukon memuat didalamnya perhitungan pancawara (pasaran) , sadwara (siklus enam harian), hastawara(padewan), sangawara(padangon), pancasuda, parasan, rakem, luluri dan wariga gemet. Nama-nama wuku seperti dibawah ini:

01. Sinta 11. Galungan 21.Maktal

02. Landhep 12. Kuningan 22. Wuye

03. Wukir 13. Langkir 23. Manahil

04. Kurantil 14. Mandasiya 24. Prangbakat

05. Tolu 15. Julungpujud 25. Bala

06. Gumbreg 16. Pahang 26. Wugu

07. Warigalit 17. Kuruwelut 27. Wayang

08. Warigagung 18. Marakeh 28. Kulawu

09. Julungwangi 19. Madhangkungan 29. Dukut

10. Sungsang 20. Tambir 30. Watugunung

Berdasar wawancara dengan Agus Sunyoto, nama-nama wuku diambil dari nama-nama istri dan anak-anak dari raja Sanjaya, yang memerintah kerajaan Mataram kuno tahun 732 M. Watugunung, sebagaimana yang dikisahkan dalam babad tanah Jawi dan menjadi asal terciptanya pawukon menurutnya adalah nama lain dari Sanjaya. Sanjaya atau rakai mataram, sebagaimana diceritakan Agus adalah seorang raja yang cerdas, dialah konseptor dari penciptaan wuku tersebut. Konsep wuku lahir dari pengamatannya terhadap benda-benda langit, selain itu ia juga mengamati setiap detail wajah para tahanan di penjara dan memerintahkan setiap jaksa wilayah mempelajari hasil pengamatannya itu, sehingga pada masa pemerintahannya, Mataram Hindu dikenal sebagai kerajaan yang aman dan tentram. Dari perhitungan itu pulalah Sanjaya dapat memenangkan setiap peperangan dengan kerajaan lain.

Tidak berbeda dengan Agus Sunyoto, Agus Rahman Hakim menerangkan kemunculan Pawukon dimulai pada masa Sanjaya memerintah Mataram Hindu. Sistem pawukon merupakan hegemoni sanjaya dalam mempengaruhi rakyatnya ketika telah akrab dengan model perhitungan pawukon tersebut. Dimana ketika rakyat percaya taliwangke sebagai hari na’as untuk melakukan perjalanan, justru sanjaya bepergian dihari-hari itu.

Beberapa sistem perhitungan yang digolongkan dalam pawukon adalah sebagai berikut:

Sadwara (Paringkelan) - Siklus 6 (enam) hari.

1. Aryang 3. Paningron 5. Mawulu

2.Wurukung 4. Uwas 6. Tungle

Hastawara (Padewan) - Siklus 8 (delapan) hari.

1. Sri 5. Rudra

2. Indra 6. Brama

3. Guru 7. Kala

4. Yama 8. Uma

Sangawara (Padangon) - Siklus 9 (sembilan) hari.

1. Dangu 4. Kerangan 7. Tulus

2. Jagur 5. Nohan 8. Wurung

3. Gigis 6. Wogan 9. Dadi

Pancasuda.

1. Wasesa Segara 5. Satrya Wirang

2.TunggakSemi 6.BumiKapethak
3. Satrya Wibawa 7. Lebu Katiyub Angin.

4. Sumur Sinaba

Rakam.

1. Kala Tinantang 5. Mantri Sinaroja

2. Demang Kaduruwan 6. Macan Ketawan

3. Sanggar Waringin 7. Nuju Pati.

Paarasan.

1. Aras Tuding 6. Lakuning Banyu

2. Aras Kembang 7. Lakuning Bumi

3. Lakuning Lintang 8. Lakuning Geni

4. Lakuning Rembulan 9. Lakuning Angin

5. Lakuning Srengenge 10. Aras Pepet

Golongan Luluri :

1. Taliwangke 3. Sarik Agung 5. Kaladite

2. Samparwangke 4. Dhendhan Kukudan 6. Sengkan

4. Sengkalan

Di samping adanya pengetahuan tentang penanggalan Saka, pada masa itu juga ditemukan perhitungan tahun Saka dengan menggunakan sengkalan. Sengkalan adalah deretan kata berupa kalimat atau bukan kalimat yang mengandung angka tahun, dan disusun dengan menyebut lebih dahulu angka satuan, puluhan, ratusan, kemudian ribuan. Kata-kata yang terdapat dalam sengkalan bukan sembarang kata yang disusun, melainkan dipilih sesuai dengan angka tahun. Deretan kata sengkalan selain sebagai simbol angka tahun juga merupakan simbol konsep-konsep magis tradisional dalam kepercayaan masyarakat. Simbol-simbol ini dapat dipahami maknanya jika dianalisis secara semiotik. Simbol nilai kata yang terdapat dalam sengkalan ada yang langsung menunjukkan angka, tetapi ada juga yang secara tidak langsung menunjukkan angka karena nilai angka tersembunyi dan harus ditelusuri asal mulanya.

Kata sengkalan secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Sakakala yang berarti tahun Saka. Sengkalan berdasarkan bentuknya ada tiga macam, yaitu sengkalan lamba (Sengkalan yang menggunakan rangkaian kata), sengkalan memet (Sengkalan yang menggunakan gambar), dan sengkalan sastra. Namun jika berdasarkan jenisnya, sengkalan ada dua macam, yaitu suryasengkala dan candra sengkala. Seperti : Dwi Naga Rasa Tunggal, Sengkalan yang menunjukkan tahun 1682 tahun Jawa atau 1756 Masehi, yaitu tahun mulai dipergunakannya Keraton Yogyakarta yang baru. Dwi berarti dua, naga melambangkan angka delapan, rasa melambangkan angka enam, dan tunggal berarti satu. Karena sengkalan angka tahunnya diartikan dari belakang maka sengkalan ini berarti 1682 tahun Jawa.

A. Masuknya Pengaruh Islam

Runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak menandai runtuhnya benteng terakhir supremasi kekuasaan Hindu di Indonesia. Kesultanan Demak, adalah kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1518 M dan mencapai puncak keemasan pada sekitar tahun 1540 M. Raden Patah (bergelar Alam Akbar Al Fattah) adalah putra Raja Majapahit Brawijaya, dengan ibu keturunan Champa (daerah yang sekarang adalah perbatasan Kamboja dan Vietnam). Para sejarawan menyebut tahun itu sebagai permulaan “Zaman Baru” dalam sejarah Indonesia. Supremasi Islam mulai berkibar di seantero Nusantara. Seiring dengan itu, simbol-simbol kebudayaan Hindu sedikit demi sedikit diganti dengan simbol-simbol kebudayaan Islam. Proses perubahan itu biasanya tidak secara drastis. Simbol-simbol lama tetap dipakai, namun esensinya diislamkan. Contohnya pertunjukan wayang. Wayang tetap digunakan sebagai media, namun ceritanya diubah dan dimodifikasi agar sesuai dengan pesan-pesan Islam. Ajaran-ajaran Islam pun banyak yang dikemas dalam tembang-tembang khas Jawa. Begitulah cara yang dipakai oleh para pendakwah Islam waktu itu. Konon, Sunan Kali Jaga adalah salah satu yang paling sering menggunakan cara-cara seperti itu.

Dalam proses Islamisasi Jawa ini Benedic Anderson mengungkapkan bahwa Para pengusa terpaksa membuat akomodasi-akomodasi. Sehingga menurutnya apa yang Islamipun diberlakukan sebagai nama lain bagi apa yg melayu

Proses Islamisasi itu sampai juga pada sistem penanggalan. Pada masa Demak penanggalan Islam Hijriyah dan penanggalan Saka dipakai bersamaan, sebab sistem penanggalan Saka-Hindu sudah sangat mendarah daging di kalangan masyarakat Jawa, karena sudah mereka gunakan berabad-abad. Tentu saja, untuk menggantikannya secara drastis akan menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. Sunan Giri, semasa pemerintahan Demak (akhir abad ke-15 M), berhasil menemukan formula pengislamanpenanggaln Saka-Hindu. Caranya dengan mengubah nama hari dalam siklus tujuh harian penanggalan Saka-Hindu dengan nama hari dalam penanggalan Hijriyah, tentu dengan penyesuaian aksen Jawa seperti itsnain menjedi senen. Selain siklus tujuh harian penanggalan Saka-Hindu juga memiliki siklus lima harian dengan nama sendiri. Siklus lima harian ini dibiarkan tidak diubah, kemudian digabungkan dengan nama-nama hari dalam siklus tujuh harian yang telah diubah. Jadilah hari dalam penanggalan Jawa yang baru disebut bersama nama pasaran-nya seperti Jemuah Kliwon, Rebo Pahing, dan sebagainya. Puluhan tahun berikutnya setelah formula ini cukup tersosialisasikan, Sultan Ageng Hanyokrokusumo, penguasa Mataram berinisiatif untuk menggunakannya secara resmi. Maka kemudian tanggal 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) ditetapkan sebagai tanggal 1 Suro tahun Alip (1555 Saka baru atau Saka-Jawa).

1. Penanggalan Hijriyah

Penanggalan merupakan penanggalan Ijtihad hasil dimasa kekhalifahan Umar bin Khatab. Kebiasaan masyarakat Arab menyebut tahun dengan mendasarkan pada kejadian yang ada pada tahun tersebut, misalnya; kelahiran nabi 12 Rabi’ul awal, tahun gajah- sebab pada tahun itu raja Abrahah menyerang Ka’bah – maka ketika pemerintahan Umar bin Khatab baru berusia dua setengah tahun, muncul persoalan yang berkenaan dengan sebuah dokumen yang terjadi pada bulan Sya’ban karena tak dilengkapi dengan keterangan tahun, terjadilah kesangsian: Sya’ban yang mana. Maka dibentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib, Abdurrahman ibn Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqas, Talhah ibn Ubaidillah, dan Zubair ibn Awwam, yang akhirnya disepakati panitia adalah usul dari Ali ibn Abi Talib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah (`Am al-Hijrah, 622 M). Maka Khalifah Umar ibn Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu penanggalan umat Islam disebut Tarikh Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriyah bertepatan dengan hari Jum’at 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriyah. Karena dinisbatkan pada momentum hijrah, maka disebutlah penanggalan ini dengan penanggalan Hijriyah.

a. Nama Bulan

Penanggalan Hijriyah Merupakan penanggalan lunar (qomariyah) yang berdasarkan rata-rata siklus perputaran bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah 12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari. Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Penanggalan Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Penanggalan Masehi. Penanggalan Hijriyah terdiri dari 12 bulan:

1) Muharram

2) Safar

3) Rabiul awal

4) Rabiul akhir

5) Jumadil awal

6) Jumadil akhir

7) Rajab

8) Sya’ban

9) Ramadhan

10) Syawal

11) Dzulkaidah

12) Dzulhijjah

b. Nama hari

Penanggalan Hijriyah terdiri dari 7 hari. Perpindahan hari diawali dengan terbenamnya matahari, berbeda dengan penanggalan yang memakai siklus perputaran matahari (Syamsiah) yang mengawali hari pada saat tengah malam. Berikut adalah nama-nama hari dalam penanggalan Hijriyah:

1) al-Ahad (Minggu)

2) al-Itsnayn (Senin)

3) ats-Tsalaatsa’ (Selasa)

4) al-Arba’aa’ (Rabu)

5) al-Khamiis (Kamis)

6) al-Jum’aat (Jum’at)

7) as-Sabt (Sabtu)

Dengan dipakainya penanggalanggalan Hijriyah, maka ada tiga sistem penanggalan yang berlaku di Jawa pada masa pra-Matram Islam yaitu : pertama, Pranatamangsa yang kebanyakan dipakai oleh para petani dan nelayan; kedua, penanggalan Saka yang dipergunakan oleh mereka yang belum memeluk agama Islam; ketiga, penanggalan Hijriyyah yang berlaku dikerajaan-kerajaan bercorak Islam.

Jika Anda menyukai posting ini, silahkan menuliskan komentar Anda atau subscribe ke feed dan mendapatkan kiriman artikel selanjutnya ke feed reader Anda.

Komentar

Bagus.
Saya mau tanya sedikit. Kalau dalam bahasa Sansekerta 6 itu SAT atau SAS

kalo gak salah 6 dalam bahasa sansekertanya sat mas. atau pean download aja kamus sansekerta di blog ini, ada kok mas. thanks ya dah berkunjung

Tuliskan komentar

(required)

(required)