Sistem Penanggalan Jawa

A. Sistem Penanggalan Jawa kuno

Ditemukannya jejak-jejak manusia purba oleh Eugene Dobois pada tahun 1890 dan Von Koenigswald antara tahun 1933 dan 1941 Di Jawa menunjukan bahwa Jawa sejak jaman purba telah mempunyai kebudayaan sendiri. G. Coedes dalam Les Etat Hindouises d’Inochine et. D’Indonesie, sebagaimana dikutip D.G.E. Hall. memberi keterangan bahwa sebelum datangnya pengaruh kebudayaan India, Jawa sudah memiliki kebudayaan dengan ciri-ciri : dari segi kebendaan (i) bercocok tanam padi, (ii) memelihara lembu dan kerbau, (iii) menggunakan logam sedikit-sedikit, (iv) mahir dalam pelayaran; dari segi kepercayaan (i) bersifat animisme, (ii) menyembah nenek moyang dan dewa penjaga tanah, (iii) mendirikan tempat-tempat pemujaan didataran tinggi, (iv) menanam mayat dalam tempayan atau dolmen, (v) cerita-cerita dongeng yang penuh dengan kepercayaan pada bahwa benda-benda dalam alam mempunyai lawannya seperti gunung dengan pantai, air dan api. Selain daripada itu bahasanya banyak menggunakan awalan, akhiran, dan sisipan. Hall juga menambahkan dari ciri-ciri yang diberikan Coedes diatas mendapat penambahan dari Krom dalam bukunya Hindoe-Jawaansch Geschiedenis yaitu adanya (i) wayang kulit, (ii) gamelan, dan (iii) kerja membatik. Kondisi iklim dan kesuburan tanah yang luar biasa serta adanya dua musim yang berlaku di Jawa yaitu musim panas dan musim penghujan menjadikan masyarakat Jawa kala itu menghafal pola musim, iklim dan fenomena alam lainnya, untuk kebutuhan bercocok tanam dan melaut. Akhirnya mereka membuat penanggalan tahunan yang dikenal dengan nama petangan dan pranatamangsa. Sebuah sitem perhitungan waktu yang bukan berdasarkan penanggalan Syamsiah (hitungan berdasarkan matahari) atau penanggalan Komariah (hitungan berdasarkan bulan) tetapi berdasarkan kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air laut.

Ahli bahasa Robert Blust dalam sebuah tulisannya di dalam buku Masa Lampau Bahasa Indonesia, Sebuah Bunga Rampai (1991) menyatakan, dari penelitian kosakata budaya itu diketahui bahwa penutur bahasa Melayu Purba memiliki orientasi kelautan yang kuat. Pada saat yang bersamaan, rakyat mempraktikkan hortikultura ladang, padi gogo, dan umbi-umbian.

Kaitannya dengan para nelayan, mereka melaut sambil membaca alam dengan melihat letak bintang yang dianggap patokan yang selalu menemani mereka saat melaut. Sudah tentu mereka mengetahui pada bulan-bulan berapa mereka saat yang baik melaut dan akan mendapatkan ikan banyak. Sebaliknya mereka mengetahui saat-saat tidak melaut, berbahaya dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Pada saat-saat itulah mereka gunakan waktu untuk memperbaiki jaring-jaring yang rusak, memperbaiki rumah dan pekerjaan selain melaut.

Kebudayaan bercocok tanam dan melaut serta kepercayaan animisme masyarakat Jawa kuno memunculkan tradisi-tradisi penyembahan pada roh dengan berbagai macam upacara-upacara seperti upacara tanam padi pertama, kala panen, sesajen untuk roh penunggu desa, upacara kelahiran dan kematian yang kesemuanya dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.

Adanya kepercayaan masyarakat pada mitos Dewi Sri sebagai dewi kesuburan merupakan manifestasi pemikiran mistik masyarakat Jawa kala itu. Kecenderungan sikap mistik tersebut disebabkan karena orang Jawa sebagian besar adalah para petani pedesaan yang memiliki ketergantungan dan kedekatan dengan alam oleh masyarakat tradisional mengakibatkan munculnya anggapan bahwa perubahan harus dapat diamati dengan jelas. Perubahan harus melalui siklus yang telah mapan, di luar siklus itu perubahan bisa berakibat terjadinya ketidakselarasan (disharmoni) dan ketidaksinambungan (diskontinuitas) kosmos. Dari sini kemudian muncul tradisi-tradisi yang berkaitan dengan pemujaan atau penghormatan terhadap Dewi Sri. Untuk itu diperlukan mitos sebagai upaya legitimasi terhadap keadaan berkeseimbangan yang tidak berubah (status quo), dan mungkin sebagai apologi kegagalan mereka mencapai keadaan yang dicita-citakan. Mitos pada dasarnya merupakan sikap pandang yang terbentuk secara empiris, terhadap berbagai fenomena kehidupan dan alam. Mitos merupakan media yang mengakomodasikan harapan dan kenyataan, sekaligus sebagai pengatur (regulator) perilaku masyarakat dan anggotanya. Terkait dengan perubahan, orang Jawa bisa menerima dengan perlahan, tanpa paksaan dan berbenturan dengan nilai-nilai paling esensi.

Masyarakat Jawa pada waktu itu mengenal 4 musim yang mencakup didalamnya 12 Pranatamangsa selama setahun yang terdiri dari :

1. Kaso.

Umur 41 hari mulai 22 Juni sampai 1 Agustus, angin bertiup dari Timur menuju Barat, merupakan awal musim kemarau. Tanda alam berupa daun-daun berguguran dan pohon meranggas. Sifat alam bila terjadi hujan akan memberikan kesegaran dan kesejukan. Tumbuhan dan pepohonan jambu, durian, manggis, nangka, rambutan, srikaya, cermai, kedongdong mulai berbunga. Kehidupan binatang menunjukkan ikan di sungai bersembunyi, telur cengkerik, kasir, belalang menetas, sedangkan kerbau, lembu dan kuda menampakkan keletihan dan malas bekerja. Pada masa ini petani membakar sisa-sisa batang padi yang tertinggal sewaktu panen. Kemudian tanah sawah dicangkul kembali ditanami palawija semacam kacang, jagung, semangka blewah, ubi dan terkadang padi gadu. Pada tanah yang kering dan sulit air umumnya dibiarkan tidak ditanami.

2. Karo.

Umur 23 hari mulai 2 Agustus sampai 24 Agustus, angin berasal dari timur. Tanda alam berupa tanah yang retak-retak, membentuk bongkahan, karena saat ini kurang atau tidak ada air. Sifat alam menampakkan pohon-pohon mulai bersemi dan berdaun. Tumbuhan dan pepohonan jambu, durian, mangga gadung, nangka, rambutan nampak berbunga. Benih yang ditanam mulai tumbuh. Sementara pohon pisang, sawo kecik dan jeruk mulai berbuah. Kehidupan binatang tampak telur binatang melata semisal ular mulai menetas. Pada masa ini petani berusaha mencari air, baik lewat sumur, mata air atau sungai yang masih berair untuk mengairi tanaman palawija yang memerlukan air untuk pertumbuhannya.

3. Ketigo.

Umurnya 24 hari mulai 25 Agustus sampai 17 September, angin bertiup dari timur laut, dan saat ini adalah musim kemarau. Sifat alam berupa pepohonan yang telah berdaun dan kelihatan berwarna hijau. Tumbuhan dan pepohonan berupa bambu, gadung, temu, kunyit, huwi, gembili mulai tumbuh. Kehidupan binatang seperti binatang melata masih senang berada dalam sarangnya. Pada masa ini petani melakukan penyiraman tanaman dari mata air, sumur atau dari sungai yang berair. Tanaman palawija sudah mulai bisa dipanen.

4. Kapat.

Umurnya 25 hari mulai 18 September sampai 12 Oktober, angin bertiup dari barat laut, dan saat ini merupakan musim peralihan, yang juga dikenal sebagai mangsa labuh. Sifat alam berupa pohon kapuk randu sedang berbuah. Tumbuhan dan pepohonan semacam kepel atau burahol dan asam berbunga, sedangkan duwet, durian, randu, nangka berbuah. Kehidupan binatang semacam burung pipit, manyar mulai membuat sarang untuk bertelur. Binatang berkaki empat mulai kawin, ikan mulai keluar dari persembunyiannya. Pada masa ini petani mengolah tanah untuk persiapan penanaman padi gogo.

5. Kalimo.

Umurnya 27 hari mulai 13 Oktober sampai 8 November, angin bertiup dari utara bertiup kencang sehingga pepohonan sering tumbang. Tanda alam banyak hujan turun. Sifat alam menunjukkan hujan yang turun sering bahkan curah hujan sering lebat. Tumbuhan dan pepohonan terlihat pohon asam mulai berdaun muda, gadung, kunyit dan temu berdaun lebat. Pohon yang berbuah adalah duwet, mangga, durian, cempedak dan cermai. Kehidupan binatang menampakkan binatang melata mulai keluar dari sarangnya. Lalat berkembang dan bertebaran di mana-mana. Petani mulai memperbaiki pematang sawah, serta merencanakan pengaturan pembagian air.


6. Kanem.

Umurnya 43 hari mulai 9 November sampai 21 Desember, angin bertiup dari barat dan bertiup kencang. Saat ini musim hujan yang terkadang disertai petir dan sering terjadi bencana tanah longsor. Sifat alam menunjukkan pohon buah-buahan mulai masak yang tentunya membuat petani merasa senang. Tumbuhan dan pepohonan mangga, durian dan rambutan mulai masak buahnya. Kehidupan binatang menampakkan lipas atau kumbang air banyak berkembang dalam parit-parit. Petani masih mengerjakan sawah untuk ditanami padi. Benih padi berupa gabah mulai ditebar di persemaian.

7. Kapitu.

Umurnya 43 hari mulai dari 22 Desember sampai 2 Februari, angin bertiup dari barat. Saat ini musim hujan dengan curah hujan sangat lebat. Sifat alam menunjukkan hujan yang terus-menerus, mata air membesar dan sungai-sungai pun banjir. Tumbuhan dan pepohonan durian, kepundung, salak, sirsak, kelengkeng dan gandaria masih berbuah. Kehidupan binatang menunjukkan burung-burung sulit mencari makan. Pada masa ini petani memperbaiki pematang yang rusak akibat hujan deras.

8. Kawolu.

Umurnya 27 hari mulai 3 Februari sampai 28 Pebruari atau 29 Pebruari, angin bertiup dari barat, hujan mulai berkurang. Sifat alam berupa hujan mulai jarang turun, tetapi sering terdengan guntur. Tumbuhan dan pepohonan sawo manila, burahol, gayam mulai berbunga. Pohon yang berbuah wuni, kepundung dan alpukat. Kehidupan binatang antara lain tonggeret berkembang biak, kucing kawin, dan kunang-kunang bertebaran di sawah. Pada masa ini petani melakukan pemeliharaan sawah antara lain memberi pupuk. Tanaman padi mulai tinggi dan ada yang mulai berbunga. Sementara di ladang petani panen jagung.

9. Kesongo.

Umurnya 25 hari mulai 1 Maret sampai 25 Maret, angin bertiup dari selatan. Sifat mangsa menampakkan tonggeret keluar dari pohon-pohon. Tumbuhan dan pepohonan masih berbunga, yaitu kawista, durian dan sawo kecik. Pohon yang berbuah alpuket, duku, kepundung dan wuni. Sementara padi mulai berisi, bahkan sudah ada yang menguning. Kehidupan binatang meramaikan suasana dengan suara yang khas dari tonggeret dan jangkrik, sedang kucing mulai bunting. Pada masa ini petani mulai mengerjakan tegalan atau kebunnya. Petani membuat orang-orangan di sawah untuk menakuti dan mengusir burung pemakan padi.

10. Kesepuluh.

Umur 24 hari mulai 26 Maret sampai 18 April, angin bertiup dari tenggara dan bertiup kencang, merupakan musim peralihan menuju kemarau. Masa ini disebut pula dengan istilah mareng. Sifat alam menunjukkan padi disawah mulai tua, burung-burung berkicau dan membuat sarang. Tumbuhan dan pepohonan alpukat, jeruk nipis, duku dan salak berbuah. Kehidupan binatang semisal sapi dan kerbau mulai bunting. Burung membuat sarang dan mengerami telurnya. Pada masa ini petani ada yang mulai melakukan panen di tegal, sedangkan di sawah petani sibuk menghalau pipit dan gelatik yang mengganggu tanaman padi.

11. Apit Lemah

Umurnya 23 hari mulai 19 April sampai 11 Mei, angin bertiup dari selatan, saat ini musim kemarau. Angin yang bertiup dari timur laut terasa panas di siang hari. Sifat alam dicirikan oleh sibuknya petani yang tengah memanen padi di sawah. Tumbuhan umbi-umbian juga siap dipanen. Kehidupan binatang dicirikan dengan menetasnya telur burung pipit atau punai dan manyar. Pada masa ini petani sibuk menuai padi dan memanen umbi-umbian di tegalan atau kebun.

12. Apit Kayu.

Umurnya 41 hari mulai 12 Mei sampai 21 Juni, angin bertiup dari timur, saat ini musim kemarau dan tidak ada hujan. Tanda alam dicirikan dengan hilangnya air dari tempatnya. Sifat alam menampakkan dedaunan yang layu karena panas matahari. Padi di sawah selesai di panen. Air sumur mulai berkurang dan banyak orang yang mengambil air dari tempat lain. Tumbuhan dan pepohonan jeruk keprok, nanas, alpukat dan kesemek berbuah. Kehidupan binatang kerbau dan sapi di kandangkan untuk diistirahatkan. Nelayan di laut sedang musim ikan nus dan cumi-cumi. Pada masa ini petani menjemur gabah untuk disimpan dalam lumbung. Padi di sawah selesai dipanen, sisa-sisa jerami dibakar, kemudian melakukan persiapan mengerjakan tanah untuk tanaman palawija.

Empat musim Jawa kuno terdiri dari:

  1. Musim Mareng

Adalah waktu ketika hujan makin surut atau makin berkurang Meliputi Kesepuluh, Apit Lemah dan Apit Kayu.

  1. Musim Ketigo

Adalah waktu musim panas atau musim kering. Meliputi bulan Koso, Karo, dan Ketigo.

  1. Musim Labuh

Adalah waktu ketika hujan sering turun Meliputi bulan Kapat, Kelimo dan Kanem.

  1. Musim Rendheng

Adakah waktu ketika banyak turun hujan. Meliputi bulan Kapitu, Kawolu, dan Kesongo.

Setelah kebudayaan Hindu Budha masuk mangsa apit lemah dan apit kayu kayu berubah menjadi dhesta dan sadha merujuk pada bulan ketiga dan keempat pada penanggalan saka. Dalam perputaran mangsa setahun penuh itu terdapat simetri yang menghubungkan antara musim yang satu dengan musim yang lain. Selain dikenalnyanya sistem pembagian waktu setahun, masyarakat Jawa kuno juga mengenal siklus enam harian yang disebut Sadwaradan siklus lima harian atau Pancawara yang menurut L.C Damais dalam penelitiannya tentang penanggalan Jawa kuno sebagaimana dikutip Muhammad Irsyadul Ibad merupakan istilah yang asli merupakan produk kepercayaan dan kebudayaan Jawa dengan melihat adanya ketidakterkaitan istilah ini dengan istilah sanksekerta.

Pasaran terdiri dari lima hari yaitu: Kliwon, Legi, Paing, Pon, dan Wage. Masing masing nama itu sejak jaman kuno telah digunakan untuk menentukan dibukanya pasar bagi para pedagang. Dalam menentukan pembukaan pasar itu dicarikan hari-hari mana saja yang paling baik untuk melakukan transaksi perdagangan. Nama 5 hari tersebut sesungguhnya berasal dari nama lima Roh pokok dari jiwa manusia yang sudah menjadi keyakinan masyarakat pada masa itu. lima macam roh yang menghidupi jasmani itu urutan namanya sama dengan nama lima hari pasaran yaitu Kliwon, Legi, Paing, Pon, dan Wage.

Dalam tulisannya mengenai pasaran, Nastiti menyebutkan bahwa konsep pasaran sebagai konsep rotasi pasar yang telah dikenal pada masa Jawa kuno, konsep panatur desa dan panasta desa yang dimasa kemudian dikenal dengan konsep mancapat dan mancalima, yaitu desa induk dikelilingi oleh empat desa yang terletak di arah empat penjuru mata angin, atau desa induk dikelilingi oleh delapan desa yang terletak di arah delapan penjuru mata angin. Namun demikian mungkin letak desa-desa tersebut tidak selalu tepat empat atau delapan penjuru mata angin, karena diarah mata angin tersebut terdapat sungai, laut, jurang, danau hutan, dan pegunungan sehingga di tempat-tempat tersebut tidak ada desa.

Konsep pasaran bila mengacu pada kepercayaan masyarakat Jawa menurut Eko Sumarno mengatakan hitungan Pasaran yang berjumlah lima itu menurut kepercayaan Jawa adalah sejalan dengan ajaran “Sedulur papat, kalima pancer“ empat saudara sekelahiran, kelimanya pusat. Ajaran ini mengandung pengertian bahwa badan manusia yang berupa raga, wadag, atau jasad lahir bersama empat unsur atau roh yang berasal dari, tanah, air, api dan udara. Empat unsur itu masing-masing mempunyai tempat di kiblat empat. Faktor yang kelima bertempat di pusat, yakni di tengah. Lima tempat itu adalah juga tempat lima pasaran, maka persamaan tempat pasaran dan empat unsur dan kelimanya pusat itu adalah sebagai berikut:

1. Pasaran Legi bertempat di timur, satu tempat dengan unsur udara, memancarkan sinar (aura) putih.

2. Pasaran Paing bertempat di selatan, salah satu tempat dengan unsur Api, memancarkan sinar merah.

3. Pasaran Pon bertempat di barat, satu temapt dengan unsur air, memancarakan sinar kuning.

4. Pasaran Wage bertempat di utara, satu tempat dengan unsur tanah, memancarkan sinar hitam

5. Kelima di pusat atau di tengah, adalah tempat Sukma atau Jiwa, memancarkan sinar manca warna (bermacam-macam)

Dari ajaran sadulur papat, kalima pancer dapat diketahui betapa pentingnya Pasaran Kliwon yang tempatnya ditengah atau pusat (sentrum) tengah atau pusat itu tempat jiwa atau sukma yang memancarkan daya – perbawa atau pengaruh kepada “Sadulu Papat atau Empat Saudara (unsur) sekelahiran.

Selain untuk menentukan musim dan pasaran, masyarakat Jawa kuno juga memakai kemahirannya dalam membaca alam untuk menentukan jam. Fenomena alam dan gerak benda-benda langit merupakan pertanda waktu bagi masyarakat kala itu. Berkokoknya ayam pada waktu dini hari atau bergeraknya matahari memunggungi gunung di sore hari menjadi petunjuk untuk menentukan jam.

Masuknya Pengaruh Hindu Budha

Sejak abad pertama Masehi perdagangan antar pulau sudah dikenal oleh masyarakat Jawa kuno. Letak kepulauan nusantara yang strategis sebagai jalur perdagangan internasional menjadikan banyaknya pedagang asing di antaranya: Persia, India dan Cina yang singgah di kepulauan nusantara termasuk Jawa. Adanya kontak antara masyarakat Jawa kuno dengan pedagang-pedagang dari luar ini memungkinkan terjadinya transformasi keilmuan yang pada akhirnya melahirkan akulturasi kebudayaan Jawa dengan kebudayaan India yangberagama Hindu dan Budha.

Keyakinan masyarakat Jawa yang tak jauh berbeda dengan kepercayaan hindu yang mempercayai banyak dewa, juga sikap terbuka Jawa pada segala sesuatu yang baru membuka jalan bagi terbentuknya kebudayaan Jawa yang telah ada menjadi kebudayaan yang berkarakter Hindu Jawa dengan menyerap segala ajaran dan kebudayaan yang terdapat pada masyarakat India. Mulai dari sistem pertanian sampai pada sistem penanggalan.

Masuknya ajaran Hindu dan Budha ternyata tidak menghapus agama asli masyarakat Jawa. Agama asli tidak punah, tetapi justru menemukan bentuk dan tempatnya yang lebih baik bagi perkembangan keyakinan tersebut. Walau demikian, Hindu-Budha memberikan konsep baru dengan mentranformasikan keyakinan masyarakat akan kekuatan pada benda-benda dan ruh menuju pada kekuatan figur-figur tertentu, yakni raja-raja. Raja dipercaya sebagai dewa atau titisan dewa. Dari kosep ini muncullah budaya untuk patuh tanpa reserve pada raja.

Berkenaan dengan dipergunakannya penanggalan saka oleh masyarakat Jawa memunculkan mitos Ajisaka yang berhasil mengalahkan Dewatacengkar raja Medangkamulan, lalu menggantikan kekuasaannya sebagai raja pada tahun 78 Masehi. Menurut C.C Berg sebagaimana dikutip Ismawati merupakan simbolisme atau lambang yang digunakan masyarakat Jawa untuk memudahkan ingatan perhitungan awal penanggalan Jawa, yaitu penanggalan saka sebagai tanda runtuhnya kepercayaan animisme karena datangnya pengaruh hindu di Jawa. Demikian pula cerita tentang kematian pengiring Ajisaka, menjadi simbolisme yang mempermudah ingatan terhadap susunan abjad Jawa.

Jika Anda menyukai posting ini, silahkan menuliskan komentar Anda atau subscribe ke feed dan mendapatkan kiriman artikel selanjutnya ke feed reader Anda.

Komentar

terima kasih infonya.
sebenarnya gw cari penanggalan jawa 2009. untuk cari tahu tanggal 1 karo jatuh pada hari apa.
kl ada infonya harap di kabari ke han_waterloo@yahoo.com

tahun Ehe,Je dan Jimakir termasuk tahun Wuntu (355 hari), akan tetapi pada tahun Je 1942 bulan Besar berumur 29 hari, mohon penjelasan,matur nuwun dan mohon paring kabar ke ernawesoti@gmil.com

Tuliskan komentar

(required)

(required)