Mengenal kosmologi jawa
Dalam kosmologi jawa dikenal adanya makrokosmos dan mikrokosmos, atau jagad ageng (besar) dan jagad alit (kecil). Jagad ageng adalah alam semesta dan jagad alit adalah manusia. Menurut pemahaman masyarakat Jawa bahwa korelasi hubungan antara alam – manusia dan pencipta-Nya merupakan unikum atau satu kesatuan yang utuh, sehingga manusia wajib menjaga harmoni kehidupan, menjaga kelestarian alam dan manembah (manunggal) dengan Allah yang juga disebut sebagai Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Sang Hyang Akarya Jagad. Kosmosentrisme spiritual yang kini didengungkan manusia modern sebagai kritik dan alternatif terhadap paradigma antroposentrisme sekuler telah lama dimiliki oleh masyarakat Jawa. Paham hidup mereka yang mengajarkan keseimbangam mikrokosmos, makrokosmos dan metakosmos menjadikan masyarakat Jawa sangat menjaga keseimbangan dan keteraturan. Bagi masyarakat Jawa yang lebih mengutamakan logos daripada chaos, manusia dan alam merupakan lingkup kehidupan yang tak terpisahkan dalam dunia orang Jawa. Manusia mula-mula hidup dalam lingkup kecil masyarakat. Kemudian melalui masyarakat ia bersinggungan dengan alam, memahami irama-irama dan denyut nadi kehidupan melalui peristiwa alam, terjadinya siang-malam, musim hujan dan musim kering, sekaligus manusia belajar bahwa alam bisa mengancam sekaligus memberikan berkah tak ternilai bagi kehidupan manusia. Eksistensi manusia sangat tergantung kepada alam sehingga manusia mempunyai kewajiban untuk menempatkan diri dalam keselarasan kosmos jika menginginkan keselarasan dan mencapai kesejatian. Jika ditarik dalam suatu kesimpulan, masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki kesadaran bahwasanya manusia sebagai jagad kecil dari keseluruhan kehidupan dan kekuatan tertinggi, hendaknya menghayati posisinya dalam kosmos, Dengan Tuhan sebagai “Sangkan Paraning Dumadi”. Ia adalah sang Sangkan sekaligus sang Paran, karena itu juga disebut Sang Hyang Sangkan Paran. Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan Pangeran iku mung sajuga, tan kinembari . Orang Jawa biasa menyebut “Pangeran” artinya raja, Masyarakat tradisional sering mengartikan “Pangeran” dengan “kirata basa”. Katanya pangeran berasal dari kata “pangengeran”, yang artinya “tempat bernaung atau berlindung”. Sedang wujudNYA tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapaiNYA dan kata kata tak dapat menerangkanNYA. Didefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaranNYA. Karena itu orang Jawa menyebutnya “tan kena kinaya ngapa” ( tak dapat disepertikan). Terhadap Tuhan, manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan perananNYA. Karena itu kepada NYA diberikan banyak sebutan, misalnya: Gusti Kang Karya Jagad (Sang Pembuat Jagad), Gusti Kang Gawe Urip (Sang Pembuat Kehidupan), Gusti Kang Murbeng Dumadi (Penentu nasib semua mahluk), Gusti Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Besar), dan lain-lain. Tentang hubungan Tuhan dengan ciptaanNYA, orang Jawa menyatakan bahwa Tuhan menyatu dengan ciptaanNYA. Persatuan antara Tuhan dan ciptaannya itu digambarkan sebagai “curiga manjing warangka, warangka manjing curiga”, seperti keris masuk ke dalam sarungnya, seperti sarung memasuki kerasnya dan manusia harusnya menempatkan diri dan menjalankan peran yang tepat dalam posisinya dalam kehidupan, yang dalam Islam di kenal dengan Khalifatu fil Ard.
Bila Al-biruni dan para ilmuwan Islam masa awal menganggap kosmologi adalah sebuah buku yang harus dibedah dan dimaknai dengan kontekstual sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada sang khalik dengan lebih dahulu mengenali jagad cilik (mikro kosmos), dengan begitu akan membuka simpul keilmuan ditubuh. Dengan pengenalan terhadap kosmologi membawa kepada penghormatan dan penghargaan manusia terhadap semua ciptaan sang kholik (Hablu min annas, hablu min Allah, Hablu min Alam), sehingga mengarah pada pembentukan akhlaq al- karimah. Oleh karena itu tidak heran bila orang-orang dahulu menguasai berbagai keilmuan (bermacam-macam ilmu) secara mendalam, sebab bagi mereka ilmu adalah cahaya, yang itu hanya bisa didapat bila kita membuka segala hijab diri.
Begitu pula dengan pemahaman masyarakat jawa tentang kosmologi, yang berimplikasi pada kehidupan sehari –hari. Keselarasan diri yang telah terbangun, dibawa kembali ke lingkungan yang lebih dari sekedar diri, tapi juga keluarga sehingga terbentuk yang dalam Islam dikatakan sebagai “keluarga sakinah mawaddah wa rohmah”. Bagaimana itu bisa terjadi?, dalam sebuah pernikahan pemahaman antar dua kutub, suami dan istri dipertemukan. Suami paham dengan posisinya dikeluarga, begitu pula istri. Setelah kehidupan kekeluargaan tertata beranjak ke lingkungan yang lebih besar lagi yaitu masyarakat, sampai pada tatanan berbangsa dan bernegara.
Frans Magnis Suseno dalam Etika Jawa lebih menekankan Kesatuan Numenus antara Masyarakat, Alam dan Alam Adi-kodrati sebagai satu kesatuan yang memiliki kekuatan Kosmis. Pada saat penguasa Demak hingga Mataram bertahta, pemusatan – pemusatan konsentrasi atas dasar kekuatan batin (intrinsink) yang didukung kondisi alam yang kondusif (ekstrinsink) serta ridhlo dari Allah merupakan satu kesatuan kosmis yang selalu dibangun oleh penguasa tanah Jawa dalam rangka menggapai ke - Gung - Binathara - an.
Dengan pemahaman yang terdapat dalam masyarakat jawa tentang kosmologi diatas tersebut, pada tataran sosial memunculkan budaya tepo saliro, anggah ungguh, nrimo dan lainnya yang menjadi tipologi masyarakat jawa hingga kini.
Jika Anda menyukai posting ini, silahkan menuliskan komentar Anda atau subscribe ke feed dan mendapatkan kiriman artikel selanjutnya ke feed reader Anda.

Prof DR Damarjati S tidak sepakat kalau manusia adalah ujud dari jagad cilik (mikrokosmos) semata. Dikatakan oleh beliau bahwa mausia terdiri dari jasad wadag dan roh (jiwa). Roh memiliki dimensi tak terbatas.
Dengan demikian bisa diartikan bahwa jasad adalah hijab yang membuat roh terbelenggu.
Mesuraga adalah ihtiar untuk membebaskan roh dari hijab , yang memungkinkan manusia mencapai dimensi tanpa batas.
Apuranto sedoyo lepat kawulo. Nuwun.