Secangkir “Java”


Dulu saya mikir kok ada program yang namanya Java – program dengan logo bergambar cangkir dengan kepulan asap diatasnya, seperti gambar diatas itu lho…-, trus apa ada hubungan dengan jawa(bahasa indonesianya Java), pertanyaan itu sampai saya bawa ke beberapa teman yang ternyata kurang tahu juga dengan penamaan program itu. Hingga akhirnya tanpa sengaja ketika browsing dapet juga tentang sejarah “Java” ini di sebuah blog http://jktmike.livejournal.com dengan tema “Orang Rusia mengenai Indonesia”, tapi bukan program java yang saya maksud diatas tapi tentang sejarah kopi. Di blog ini saya banyak menemukan artikel menarik tentang Indonesia yang tidak saya ketahui sama sekali pada awalnya, salah satunya tentang sejarah kopi ini. Dibawah ini saya kopi paste-kan salah satu postingan di blog tersebut, benar-benar menarik, ada banyak gambar dan gaya bahasa sangat enak untuk dibaca. Kalau mau lengkapnya kunjungi saja blog tersebut. :

PERJALANAN KRIMINAL DEMI POHON KOPI (Secangkir Jawa-1)

Jarang diketahui diatas muka bumi ini tentang pencurian yang dilakukan secara terus menerus, lama dan sering, seperti pencurian pohon kopi :-)

Etiopia diyakini sebagai negeri asal minuman paling terkenal di dunia ini, karena disanalah kurang lebih seribu atau dua ribu tahun yang lalu untuk pertama kalinya pohon kopi ditemukan. Di dunia saat ini perharinya kopi dikonsumsi sebanyak ratusan juta gelas.

Disanalah kopi melalui pembaptisan dan menerima nama kafe, yang berasal dari nama provinsi pegunungan yang berada di barat daya Etiopia. Tapi pada saat itu belum ada sebagai minuman: orang-orang Etiopia untuk mengkonsumsinya makan biji-biji aja:

Untuk pertama kalinya secangkir kopi diseduh di Yaman, negeri di seberang Laut Merah. Kemungkinan besar – pada saat Yaman berada dibawah kekuasaan Etiopia, itu sekitar pertengahan milenia pertama masehi.

Ada kisah tentang pertama kali kopi ditemukan, kisah ini berdasarkan versi yang banyak tersebar: alkisah seorang pengembala kambing mendatangi imam sufi dan mengeluhkan soal kambing gembalanya yang tidak dapat tidur dimalam hari, kambing-kambingnya berlompatan dan keluar dari kandang. Dan biasanya bertindak gegabah

Imam mendatangi tempat tersebut dan menemukan sebuah pohon kecil yang ditumbuhi dengan buah-buahan dari jenis beri. Imam mencicipi buah itu. Lalu meminta air panas untuk menyeduh buah-buah beri tersebut dan meminumnya. Imam menyadari bahwa diapun dapat terjaga sepanjang malam tanpa rasa kantuk. Terinspirasi oleh pengalaman ini, imam memerintahkan para darwis untuk meminum ramuan ini setiap hari, “yang membuat mereka terhindar dari kantuk, sehingga mereka dapat terjaga semalaman untuk beribadah”.
Kisah lainnya menceritakan bahwa imam menguji kopi tersebut “pada binatang ternak lain yang sedang tertidur dengan nyenyak”. Binatang tersebut lalu menjadi bersemangat, waspada dan cekatan, berbeda dari binatang ternak seperti itu biasanya”. Menjelang abad XIII kopi memiliki nilai religius bagi orang Arab. Dan mulai mempengaruhi kehidupan sosial. Berdasarkan beberapa informasi, saudagar arab meyakinkan para pembelinya bahwa meminum kopi dapat membawa orang ke surga. Metode pengiklanan seperti itu berjalan dengan sukses. Lagipula kopi dapat menggantikan khamr yang dilarang dalam ajaran islam. Dan seiring berjalannya waktu golongan ortodok islam mencoba melarang masyarakat meminum kopi (dan seperti biasa tidak berhasil) Cerita bagaimana kopi bisa sampai di Eropa, Anda bisa temukan sendiri. Saya akan langsung loncat beberapa abad.
Yaman selalu menjadi penghasil kopi yang unik sebelum awal abad XVII. Apa Anda tahu bahwa pengiriman benih kopi dari Yaman (hanya benih yang kering…… atau yang dicuci dengan air panas – untuk mencegah “pembajakan illegal”) ke dunia luar melalui pelabuhan Mocha. Nama pelabuhan tersebut kemudian dijadikan nama untuk jenis kopi terbaik. Pada waktu itu membawa kopi yang asli ke luar dari Yaman merupakan tindakan kriminal dan akan dihukum mati. Baru pada tahun 1616 seorang pedagang muda VOC……Peter van der Brook berhasil mencuri bibit kopi dari Yaman dan mengirim ke taman botanik Amsterdam. Dari sanalah kopi melanglang buana pertama-tama ke Sri Langka lalu kemudian ke Jawa. Di Jawalah untuk pertama kalinya kopi diolah dengan sangat baik dan bercita rasa tinggi,… …sehingga pada 1714 salah satu bibit kopi dijadikan hadiah untuk raja Prancis Louis XIV – agar dapat ditanam di taman botaniknya Jardin des Plantes (menurut cerita, raja Louis XIV menyeduh sendiri kopinya, karena tidak percaya dengan juru masak istana, dan sepertinya menjadi orang pertama yang menambahkan gula pada kopi). Belum berlalu sepuluh tahun setelah itu, ketika Mathieu de Clieu, seorang perwira angkatan laut yang bertugas di Martinique (koloni Prancis di Karibia) mengunjungi taman yang terletak di Paris tersebut ketika sedang cuti. Dia datang dengan maksud di hati untuk merubah Martinique menjadi “pulau Jawanya Prancis”, dia meminta sang raja agar bersedia memberikan beberapa kopi curian itu agar dapat ditanam di Martinique. Tapi ditolak oleh sang raja (apakah kopi yang merupakan hadiah Belanda itu dilarang dikembangbiakan di tempat lain?) Kemudian de Clieu pada malam hari memanjat pagar, dan mencuri tunas pohon kopi dan membawanya ke Martinique – dan hal ini juga merupakan tindakan kriminal. De Clieu menulis, awalnya ada seorang penumpang yang sekapal dengannya melepaskan tembakan karena ditolak untuk mengembangbiakan tunas kopi tersebut. Kemudian kapal tersebut diserang oleh bajak laut untuk merebut tunas kopi tersebut, walaupun dengan susah payah tapi akhirnya bajak laut berhasil merebutnya. Singkatnya, dalam 15 tahun di Martinique sudah ditanam 18 juta pohon kopi secara illegal terutama dalam skala besar]. Semua berawal hanya dari sebutir bibit kopi yang dicuri lalu dibawa ke Amsterdam…Dari Martinique pohon tersebut dipindahkan juga ke Guyana Prancis. Ketika konflik mulai pecah diantara kedua koloni, seorang diplomat Portugis yang netral dikirim dari Brazil untuk membuat perjanjian gencatan senjata. Pada saat yang sama dia berhasil mendapatkan bantuan dari seorang istri petugas Prancis yang menghadiahinya dengan biji kopi yang belum dikeringkan dan secara diam-diam membawanya ke Brazil. Intinya, kopi dengan cepat menyebar ke seluruh benua Amerika. Dan sekarang perkebunan kopi di dunia luasnya mencapai lima juta hektar dan jika disatukan setiap lajur perkebunannya yang berlebar setengah kilometer, maka dapat mengelilingi katulistiwa.

P.S. dalam bahasa “Inggris Amerika” terkadang kopi apa saja dinamakan dengan Java. Situs National Geographic mendedikasikan halaman tersendiri untuk kopi. Walau tidak terlihat dengan jelas, tapi coba Anda lihat di bagian bawah kanan halaman kalimat “Come and try Java!”

P.P.S. saya berhutang atas penggunaan judul dan semua informasi yang berguna dalam posting ini kepada buku dibawah ini yang salah satu penulisnya, Gabriela Teggia, merupakan bekas pemilik Losari

Jika sejarah penyebaran kopi mirip dengan cerita detektif yang menarik hati, maka proses pengolahan dan pembuatannya tak kalah menariknya.

Tapi sayang sekali: kenapa Jawa yang sebenarnya menjadi tempat ditanamnya banyak kopi yang lezat, sehingga menjadi tradisi bangsa, saat ini sedikit sekali diketahui dunia luar sebagai produsen kopi?

Jadi bisa diceritakan begini…

Di Jakarta Selatan dimana banyak terdapat kaum ekspat ada sebuah café yang bagus. Disana kita dapat mencicipi kopi Jawa asli yang ditanam di perkebunan P.T. PN XII yang terletak di lereng gunung Ijen di Jawa timur (akan ada posting terpisah mengenai ini) Tapi kopi tersebut bukan didatangkan dari Jawa Timur, melainkan dari AS. Hasil panen sebagian besar dikirim ke AS, sisanya masih diekspor juga ke negara lain. Sehingga tidak ada yang tersisa untuk konsumsi masyarakat lokal… Di luar negeri bahkan dijual juga merek kopinya, terutama paket tiruan dari kopi yang rusak dimakan waktu karena perjalanan panjang ke Eropa dengan menggunakan kapal-kapal dagang pada abad XVIII-XIX. Lalu apa yang terjadi?

Dalam sejarah lampau mengenai kopi di Indonesia lebih banyak pertumpahan darah, kelaparan dan penderitaan dari pada aromanya yang lezat. Tapi hal rinci mengenai sejarah tersebut – akan saya ceritakan di lain waktu. Saya hanya akan bilang bahwa kolonial Belanda memaksa orang Indonesia untuk menanam kopi dan melarang mereka menanam padi yang menyebabkan ribuan orang mati kelaparan. Hal tersebut kita kenal juga dengan politik “tanam paksa”

…Buku tersebut dicetak pada 1860 oleh seorang pegawai kolonial Belanda, Douwes Dekker, dengan menggunakan nama samaran Multatuli dan membuat pemerintah Belanda (di negeri Belanda) terkejut, sehingga mereka menghentikan politik tanam paksa tersebut pada 1870.

Tapi… pada 1878 epidemi jamur yang disebabkan oleh - jamur vasatrix – ancaman terbesar bagi pohon kopi - telah merusak semua perkebunan di kepulauan Indonesia dengan jamur Hemileia vasatrix. Semua pohon kopi mati, kecuali pohon-pohon yang tumbuh di daerah yang berada di ketinggian lebih dari seribu meter diatas permukaan laut (dan sejak itu Arabica – pohon kopi Arabica (kopi Arabica) – ditanam di Jawa hanya di daerah tersebut).

Dan, akhirnya, kelaparan massal lagi – diantaranya adalah orang Jawa yang dipaksa menanam pohon kopi dan dilarang menanam padi.

Orang Belanda mencoba menanam liberica (coffee canephora var. liberica), tapi di tahun 1890 varian baru jamur yang pernah merusak semua pohon kopi di kepulauan Nusantara menghancurkan kembali semua tanaman tersebut. Dan akhirnya, robusta (coffea canephora var. Robusta – sekarang di Indonesia 90% kopi yang diolah adalah Robusta) yang lebih tahan lama, lebih keras dan lebih harum wanginya menjadi jawaban atas masalah tersebut. Robusta mengandung kafein hampir setengah lebih banyak dari jumlah kafein Arabica.

Dan dengan dominasi kopi Hindia Belanda di peringkat dunia, maka semua selesai: untuk satu dekade lalu perkebunan di Amerika Selatan mulai bangkit dan menjadi lebih kuat…

Tapi di perkebunan Losari di Jawa tengah hingga saat ini dapat dilihat semua jenis kopi, termasuk pohon kopi yang ditumbuhkan hingga ketinggian lebih dari 20 meter, bernama ekszelza, dan biasanya buah kopi dari jenis ini tidak dipakai untuk membuat kopi.

Dalam pengolahan kopi – banyak digunakan ide kreatif. Pertama-tama, pohon kopi…Pohon kopi tidak suka terlalu banyak sinar matahari, sehingga dibagian atasnya ditutup dengan sesuatu yang besar seperti iniLalu untuk “perbaikan keturunan”, dan agar pohon tidak tumbuh terlalu tinggi, supaya tidak menyulitkan proses penuaian… …digunakanlah teknik okulasi: cangkokan

Kalo dibawah ini baru info singkat beneran soal program java yang saya copas dari

kapurtulis.wordpress.com

Dulunya, tanaman kopi yang berasal dari Pulau Jawa, banyak diekspor ke luar negeri (1). Nah, tahun 1991-1995 sekelompok orang yang salah satunya adalah James Gosling sering berkumpul di kedai kopi untuk membahas proyek bahasa pemrograman mereka. Entah karena jenis kopi yang mereka minum atau karena istilah slang “coffee” (2), mulai saat itu, bahasa pemrograman itu terkenal dengan nama JAVA dan berlogo secangkir kopi hangat (3).

1) http://mindprod.com/jgloss/coffee.html

2) http://www.merriam-webster.com/dictionary

3) http://mindprod.com/jgloss/java.html

Jika Anda menyukai posting ini, silahkan menuliskan komentar Anda atau subscribe ke feed dan mendapatkan kiriman artikel selanjutnya ke feed reader Anda.

Komentar

hem,,,,
keren mas, tulisannya….
saya harus banyak belajar di sini….

makasih ya commentnya…(he..he..he..baru kamu lho yang bilang bagus)

wah makasih banyak ya…referensi semakin banyak, semakin numbuhin cinta tanah dan air …he…

Tuliskan komentar

(required)

(required)