Surga itu bernama Nusantara

Tanpa berniat mengunggul-unggulkankan bangsa ini serta menjerumuskan diri kedalam mimpi-mimpi tentang kejayaan nusantara masa silam, dengan tanpa melihat realitas yang ada sekarang, judul ini saya buat (kan Baytii Jannatii, atau rumahku adalah surgaku) . Paling tidak judul diatas cukup mendukung dengan tujuan dari blog ini, yaitu menumbuhkan kesadaran Historis tentang sejarah bangsa ini, dengan mencoba mengkaji apa yang menyebabkan bangsa-bangsa Eropa begitu antusiasnya untuk dapat menguasai kepulauan nusantara dimasa lalu sampai pada mengapa Indonesia dimasa kini yang dikenal dengan negara kepulauannya serta ke-bahari-annya menjadi terlupakan.

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Itu kata Koes Plus beda lagi bila sejarah yang bilang. Kalo kita mau kilas balik sebentar ke sejarah bangsa kita Indonesia -dahulu dikenal nusa-antara, oleh sebab itu saya pakai kata nusantara untuk tema diatas- mengapa dahulu orang-orang Eropa menancapkan kolonialisasinya di Nusantara. Jarene wong tuwo-tuwo biyen dan buku sejarah yang saya baca serta hasil browsing sana sini, ceritanya begini;

sebelum berhasilnya ekspedisi pelayaran Cornelis de Houtman ke Nusantara untuk membuka perdagangan dengan Asia dan untuk mencari jalur rempah-rempah sebagai komoditas dagang saat itu, portugis sudah lebih dahulu -Pelopor penjelajahan Portugis adalah Pangeran Henry “Pelaut” (1394-1460) yang sampai di pantai Barat Afrika dan mereka menemukan emas di Afrika- melakukan mencari jalur pelayaran ke negeri rempah rempah, emas dan batu-batu mulia yang banyak ditulis oleh penulis Yunani seperti Dionysius Perigetes, Ptolemy juga tulisan yang ada pada sejumlah manuskrip. Tapi sebelum itu saya akan berceritera tentang peta dulu, soalnya kebanyakan mereka mencari jalur itu menggunakan peta, atau bisa jadi Kolonialisme dimulai dari sebuah peta ??

Dari sebuah gambaran penuh dengan simbol, arah navigasi ditentukan dan sebuah sasaran yang ditargetkan Pentingnya fungsi Peta pada waktu itu dapat dimaklumi, karena dunia Pelayaran belum mengenal peralatan seperti Radar, GPS dan peralatan Nautical lainnya. Dibangku sekolah dasar, kita mengenal nama Marcopolo dengan bukunya “Book of Various Experiences” mengisahkan tentang keajaiban dunia atau Imago mundi, Alfanso Albuquerque, Vasco de Gama, Colombus, Cornelis de Houtman , orang Belanda pertama yang berlayar di Jawa (tentang pelayaran De Houtman telah saya posting sebelumnya). Sepanjang kita mempelajari Sejarah Indonesia dan bahkan para sejarahwan Indonesia sangat sedikit yang mengenal nama Jan Huygen van Linschoten. Padahal tanpa tokoh itu, mungkin negara kita yang belakangan dikenal dengan nama Indonesia tak terlalu terburu – buru dijajah. Lewat peta itu bangsa Eropa memberitakan kekayaan bangsa Asia Tenggara untuk mengundang pelaku Kolonialisme lain ataupun penanam modal. Peta kuno memegang peranan penting bagi penaklukan sebuah kawasan, dan dipandang sebagai dokumen rahasia karena betapa mahalnya sebuah manuskrip yang mengungkap jalur ke wilayah Nusantara. selain dari nilai peta kuno yang memiliki mutu Estetika, dibandingkan dengan peta modern, peta kuno jauh lebih memiliki nilai artistik. Sesungguhnya minimnya peralatan dan pengetahuan lazim menghasilkan peta kuno yang jauh dari presisi. Prinsip Supply – Demand juga berlaku dalam bursa peta kuno dan memiliki harga pasar yang sangat tinggi -Sebuah Peta Pulau Jawa karya kartografer Prancis Bellin tahun 1775 dijual seharga US$ 1.970 oleh Edwin Raharjo yang memiliki hobby mengumpulkan peta kuno -Diantara negara – negara Eropa, Negara Portugal mempunyai keinginan untuk membuktikan kebenaran cerita tadi. Setelah menaklukan Malaka ( 1511 ), Alfonso de Albuquerque meneruskan pelayarannya dengan tiga kapal. menuju ke Maluku dan Jawa. Ahli Kartografi Fransisco yang menyertai ekspedisi itu membuat Peta dari Kepulauan dan Perairan yang dikunjungi. Sejak akhir abad 15 Peta sudah mulai dibuat di Eropa dan dapat dikatakan bahwa penerbit dan ilmuwan Eropa mendominasi pembuatan Peta sampai awal abad 20. Dalam ekspedisi tersebut salah satu kapal secara tak sengaja menabrak kapal karam di perairan Banda. Mereka terdampar, penduduk setempat dengan ramah menolong mereka dan menjual Pala dengan harga yang sangat murah.

Dari situlah semua bermula, rempah – rempah yang semula harus didapat bangsa Eropa melalui beberapa tangan yaitu pedagang Melayu, Cina dan Arab dengan harga ribuan kali lipat, ternyata dapat diperoleh dengan begitu murah. Bau harum semerbak pun segera memenuhi udara Eropa, membuat bangsa – bangsa Pelaut lain tertarik untuk datang. Belanda negara yang terhitung paling muda dibandingkan dengan Spanyol, Portugal dan Inggris ingin juga turut dalam persaingan meluaskan tanah jajahan. Pada tahun 1595 Kerajaan Belanda memberi kepercayaan kepada Maskapi Dagang Hindia Belanda ( VOC ) untuk memulai misi ke Timur (untuk cerita ini saya suka sekali komik karya DwiKoen “Sawung Kampret”, banyak muatan sejarah didalamnya yang dikemas dengan humor yang renyah).

Rempah-rempah dan jalan menuju surga

Mungkin kita selama ini bertanya seberapa penting rempah-rempah bagi negara-negara di Eropa masa itu hingga harus mencari dan memperebutkannya. Dari hasil baca, saya mendapati ternyata rempah-rempah digunakan untuk memanggil para dewa dan mengusir para iblis, menyembuhkan penyakit serta mencegah epidemi, dikatakan bekerja jauh lebih efektif dibanding emas, sebagai alat pembayaran dan bahkan menjadi alat pembayaran internasional. Sebuah blog milik seorang jurnalis berkebangsaan rusia yang kemudian di terjemahkan oleh Elzaki Hidayatullah

menuliskan seperti ini:

Apa yang sebenarnya ingin dicari Columbus bukanlah Amerika, tapi India (semua anak sekolah dasar juga tahu). Namun jarang sekali diketahui orang bahwa yang dimaksud Columbus dengan India pada waktu itu bukanlah negeri India yang kita kenal sekarang, tapi adalah wilayahnya di selatan termasuk bagian daripada yang merupakan wilayah Indonesia sekarang, seperti yang tertulis di prasasti. Dari prasasti dapat diketahui juga bahwa Columbus pada mulanya menuju kesana bukan untuk mencari emas aja.
Jadi apa tujuan Columbus kesana?! Sebenarnya dia mencari rempah-rempah sebagai tujuan utama, baru kemudian mencari hal berharga lainnya yang telah membuat bangsa-bangsa Eropa bergantian menancapkan kolonisasinya. Yang pertama menancapkan kolonisasinya adalah “kerajaan maritim” Portugis, baru kemudian bangsa Spanyol yang mengkolonisasi dengan kekuatan yang lebih besar dan menguasai wilayah yang lebih luas, setelahnya menyusul bangsa Inggris dan Belanda….

Ngomong-ngomong, apakah Anda tahu gelar lengkap raja Jacob I dari Inggris (1566-1625)? “Raja Inggris, Skotlandia, Irlandia, Perancis, Puloway dan Puloroon”! (Pulo disini maksudnya pulau, Ai dan Run, adalah dua pulau yang sangat kecil di perairan Banda, Maluku, pulau ini pernah berhasil dikuasai Inggris dalam masa yang singkat pada abad XVI).

Oya ada cerita yang berhubungan dengan pulau Run, yang menurut saya adalah salah satu lelucon sejarah yang paling lucu. Setelah mulainya perang Inggris-Belanda yang kedua, armada Belanda mengalahkan orang-orang Inggris, dan setelah menyerang Temza mereka mengancam London, sehingga Inggris pada 31 Juli 1667 harus menandatangani perjanjian Breda yang sangat menghinakan Inggris. Belanda menguasai pulau Run yang ditaklukan pada waktu itu (juga Suriname di Amerika Selatan). Agar tidak nampak jelas seperti perampokan, mereka memberikan penggantinya untuk London – New Amsterdam di Amerika. Sekarang pulau Manhattan… Rempah-rampah dulu adalah IMPIAN. Salah satu bait puisi Irlandia abad XIII yang berjudul The Land of Cockayne, mengatakan bahwa disana ke dalam mulut orang-orang dengan sendirinya beterbangan burung kutilang yang sudah dimasak, yang ditaburi dengan cengkeh dan kayu manis…
Lucukah? Kalau iya, sebenarnya seperti itu juga Peter Damian (1007 - 1072, uskup dan dokter gereja asal Italia melukiskan Surga: “Sungai madu mengalir, mengeluarkan bau rempah-rempah dan wangi anggur”…

Bagaimana menurut Anda? Untuk apa Columbus membawa penerjemah bahasa Hebrew-Spanyol dalam ekspedisinya? Dia yakin (karena buku-buku di perpustakaannya menjelaskan demikian) bahwa dia akan berlayar di atas tanah menuju Surga … (dan mungkin memang tidak jauh dari kebenaran lebih jauh mengenai bagaimana Columbus bersama Cortes dengan gigih mencari Surga di Amerika akan saya tulis pada posting yang berbeda)

Namun, pemujaan terhadap rempah-rempah sudah dimulai jauh sebelum lahirnya Yesus. Uskup Palladius pada pertengahan abad IV menulis bahwa pernah diterima dari Cretans resep tentang pembuatan anggur yang ditaburi dengan rempah-rempah yang mana menurut mereka, resep itu mereka terima dari seorang bijak dari Delphi pada jaman mereka.

Dahulu para pelaut Yunani berperan menjadi sentral utama perdagangan lada di pantai Malabar Kalkota sehingga salah satu penamaan lada dalam bahasa Sansekerta adalah yavanesta –“gairah orang Yunani” . Orang Yunani bukanlah yang pertama dalam hal tersebut. Karena dua biji merica ditemukan di kedua lubang hidung mumi firaun Ramses II yang wafat duabelas abad sebelum kelahiran Yesus. Tapi selanjutnya orang Romawilah yang melakukan impor rempah-rempah dari “India” dalam jumlah besar.

Dari keempat rempah-rempah yang sangat penting di jaman kuno dan abad pertengahan berikut ini (cengkeh, pala/biji pala, kayu manis/cassia dan lada hitam) dua jenis terakhir bukan berasal dari kepulauan Maluku: tempat asal lada hitam adalah Malabar yang terletak di pesisir pantai Hindustan, sementara kayu manis asalnya dari barat dan barat daya Sri Lanka). Walaupun demikian disini harus juga diceritakan mengenai lada dan kayu manis – bukan hanya karena lada pada abad pertengahan ditumbuhkan juga di Jawa walaupun dalam jumlah yang lebih kecil jika dibandingkan dengan yang ditumbuhkan di India, tapi juga mengenai sejarah kayu manis yang tidak terlepas dari analognya yang berkembang di seluruh Asia Tenggara bahwa cassia dianalogikan “untuk orang miskin”. Oleh sebab itu di dunia luar mereka dipahami secara berbeda-beda.

Dan berapa kali coba alkitab menyebutkan soal rempah-rempah! Baca lagi injil Lukas dan Yohanes yang menceritakan tentang bagaimana tubuh Yesus diturunkan dari tiang salib…

Ngomong-ngomong, surat al-insan dalam Al-quran juga menyebutkan soal rempah-rempah “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi anggur) yang campurannya adalah air kafur (air jahe)”. Al Tabari, seorang ulama besar pernah menulis bahwa ketika terusir dari Surga Adam menangis karena sesal, air matanya menjelma menjadi batu permata dan rempah-rempah. Batu permata dan rempah-rempah itu menjadi pelipur hati bagi umat manusia setelah turunnya Adam dari Surga.

Namun, itu baru setelah masa-masa selanjutnya…. Tahukah Anda nama dewa utama orang Phoenician Vaal-Ammon jika diterjemahkan adalah “Pemilik Altar wangi”…

Pendeknya, dahulu rempah-rempah itu bersifat ketuhanan. Rempah-rempah tidak hanya disamakan dengan nectar dan ambrosia, tapi juga sangat sering dianggap sebagai nectar dan ambrosia. Dan itu terlepas dari namanya yang terkesan biasa! Kan ciri-ciri bunga kering yang tidak mekar yang tumbuh pada pohon kecil yang selalu hijau (tingginya jarang lebih dari 12 meter) Syzygium aromaticum (alias Eugenia caryophyllata) ini diasosiasikan dengan “paku”, tidak hanya dalam bahasa Rusia, tapi juga dalam bahasa Cina (“paku wangi” – ting-hiang). Serta dalam bahasa Inggris dan Perancis padanannya (clove/clou) disadur dari bahasa Latin, yaitu clovus yang bermakna sama- paku.

Tapi wanginya! Sebelum pelayaran laut jadi tidak diminati oleh karena kapal-kapal yang bau, para pelaut berpengalaman diyakinkan bahwa mereka akan merasakan dekat ke “kepulauan rempah-rempah” jauh sebelum kepulauan itu nampak di horizon – dari baunya…

Dan jauh setelahnya – pada abad pertengahan – ekstrak cengkeh dan kayu manis digunakan untuk mengurangi rasa sakit penderita pes (ngomong-ngomong, tentang penggunaan cengkeh dan lada sebagai obat-obatan pernah ditulis oleh Bede (sekitar 673-735), dia orang yang patut dimuliakan atas jasanya). Walaupun, disini dia hanya sebagai penerus orang yang punya wewenang, Galen salah satu dokter dan ahli purbakala terkenal yang hidup pada abad II M.

Dan dimasa-masa selanjutnya biarawan Fransiskan Roger Bacon (1220-1292) menyarankan campuran yang terdiri dari ular tedung yang digiling dan dikeringkan, cengkeh, pala dan bunga pala sebagai ramuan anti tua. Pengertian tentang makna “rempah-rempah” dan “obat-obatan” begitu identiknya, sehingga dalam bahasa Italia hingga sekarang kata speziale menjadi salah satu sebutan untuk ahli farmasi.
Ngomong-ngomong, bagi saya entah mengapa orang Romawi kuno umumnya lebih menarik dari orang Yunani. Mungkin karena berdasarkan keterangan ahli sejarah bahwa mereka memiliki kebiasaan setiap pagi memberikan sesaji wewangian dan rangkaian bunga kepada Lares dan Penates yang menjaga perapian di rumah mereka, seperti juga tradisi di Bali saat ini.

Tahu tidak pada tahun berapa saya, secara pribadi, menandai berakhirnya “era rempah-rempah” dalam sejarah manusia? Tahun 1937. Pada tahun itu Raja Inggris untuk terakhir kalinya menerima sewa berupa seratus shilling dan satu pon lada hitam dari walikota Lauceston yang merupakan sebuah kota kecil Cornish.

Jika Anda menyukai posting ini, silahkan menuliskan komentar Anda atau subscribe ke feed dan mendapatkan kiriman artikel selanjutnya ke feed reader Anda.

Komentar

wow sangat menarik, kalau kenyataaannya seperti itu berarti ada banyak fakta dalam sejarah yang sengaja ditutup tutupi untuk mengaburkan pengertian bahawa betapa penting indonesia bagi negara lain, dimana dari sisi kultur geografis mereka sangat tergantung kepada indonesia, begitu yang coba mas elroem ungkap…?

Salam
Itu sebenarnya yang harus jadi perhatian masyarakat yang merasa warga Indonesia, terutama dalam pendidikan baik akademis maupun informal. Karena generasi demi generasi sepertinya rasa ke-Nusantara-an kian luntur sejalan dgn kian mudahnya akses informasi global.
Generasi sekarang mungkin bisa dihitung yg peduli dgn ke-Bangsa-an, saling menghujat menyalahkan sesama bangsa sendiri. Mereka lupa [krn tidak tahu] bahwa itu sudah di-set demikian oleh bangsa2 yg tahu potensi kebesaran Nusantara. Mereka tahu bila bangsa Indonesia besar akan sangat berbahaya bagi mereka.
Tapi sayangnya, bangsa kita justru terlena dgn mainan yg mereka berikan, terlena dgn suapan2 ideologi yg ’seolah-olah’ modern dan sarat teknologi.
Bangsa kita lupa dgn kebijaksanaan lokal yg sebenarnya sangat berbudi. Semoga makin banyak yg tersadar dr kilau silau bentuk penjajahan baru ini.

Regards

Tuliskan komentar

(required)

(required)